Powered By Blogger

Kamis, 18 Juli 2013

Menemukan Diri lewat Menulis?


Oleh Hernowo



“Apa yang paling penting dan paling berharga yang Pak Hernowo temukan ketika menulis?” tanya seorang sahabat Facebook saya suatu ketika. Dia bertanya seperti itu setelah membaca tulisan saya yang berjudul “Menulis untuk Menemukan”. Secara cepat, dan tanpa berpikir terlalu lama, saya pun kemudian mengambil dan menayangkan dua kutipan berikut ini. Dua kutipan berikut merupakan kutipan favorit saya apabila saya diminta seseorang untuk memaknai kegiatan membaca dan menulis. Entah kenapa, dua kutipan berikut ini sangat saya senangi. Mungkin keduanya mampu menyalakan “api” semangat membaca dan menulis saya hingga berkobar-kobar tak terkira setiap kali saya usai membacanya. Dan setiap kali saya mengutip keduanya, hati saya pun berbunga-bunga:




Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang-orang lain—entah mereka nyata atau imajiner—merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kita mengenai siapa sebenarnya diri kita ini dan bisa menjadi seperti apakah kita.” URSULA K. LE GUIN

”Menulis sesungguhnya adalah ekspresi hati dan curahan jiwa kita yang terdalam. Karena itu, keaslian sesungguhnya merupakan kata kunci di sini. Bagi seorang penulis sejati, perasaan otentik sangat penting dan keotentikan itulah sesungguhnya yang hendak dikomunikasikan seorang penulis kepada setiap pembaca tulisannya. Menulis sesungguhnya adalah sebuah proses untuk menjadi diri kita yang sebenarnya. Bahkan menulis sesungguhnya adalah sebuah proses untuk menjadi diri kita yang seutuhnya, sebuah proses pergulatan untuk menemukan diri kita yang sejati.” ARVAN PRADIANSYAH

Kutipan pertama tentang membaca berasal dari seorang penulis novel dan kutipan kedua tentang menulis berasal dari penulis yang juga seorang motivator. Saya sangat menyukai dua kutipan tersebut karena cocok dengan diri saya ketika sedang melakukan kegiatan membaca dan menulis. Membaca, bagi saya, adalah melakukan perjalanan yang jauh dan menantang. Buku yang saya baca, kadang, saya anggap bagaikan kapal yang siap mengantarkan saya ke wilayah-wilayah yang tidak terduga. Saya kadang menemukan diri saya yang sedang berada tersembunyi di tumpukan kata-kata yang diciptakan dan disusun oleh seorang penulis. Ada kalanya juga saya menolak diri saya sendiri yang saya temukan di halaman sebuah buku.

Kutipan dari Arvan saya temukan belakangan. Kalau kutipan dari Ursula saya abadikan di buku yang sangat saya sukai, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza (2003), kutipan Arvan kadang saya perkenalkan di kerlas-kelas pelatihan menulis yang saya ampu. Terus terang saja, tidak mudah untuk menjelaskan makna dua kutipan tersebut. Saya tidak tahu, kenapa membaca dan menulis yang cara melakukannya berbeda tersebut dapat mengantar seseorang yang melakukannya untuk menemukan diri. Saya mampu mengalaminya tetapi, sesungguhnya, saya tidak mampu menjelaskannya. Diri seperti apa sesungguhnya yang saya temukan ketika saya membaca dan menulis?

Yang jelas, membaca sesungguhnya adalah belajar memahami pengalaman orang lain—baik yang kita baca (pelajari) itu berasal dari buku fiksi maupun nonfiksi. Lewat membaca, pengalaman seorang penulis—dalam bahasa Ursula disebut ”pengalaman nyata atau imajiner”—kita serap dan masukkan ke dalam diri kita. Pengalaman seorang penulis kemudian bercampur dengan pengalaman diri kita. Proses percampuran pengalaman baru (dari seorang penulis) dan pengalaman lama (yang sudah ada di dalam diri kita) itu menjadikan diri kita lebih jelas sosoknya. Diam-diam, mungkin tanpa saya sadari, diri saya terbentuk lebih jelas ketika saya sedang membaca dan menuliskan hasil membaca saya. Ketika saya membaca huruf, kata, kalimat, dan sebagainya dalam buku tersebut, seluruh komponen bahasa itu kemudian membantu saya membangun diri saya. Saya pun, pada akhirnya, mengenali diri saya setahap demi setahap.

Ketika menulis, saya sesungguhnya sedang mengeluarkan diri saya dengan bantuan kata-kata yang saya miliki yang telah saya serap dan kumpulkan sebelumnya lewat membaca. Kekayaan kata yang saya miliki (akibat membaca) sangat membantu saya mengeluarkan dan merumuskan diri-sejati saya serta—ini yang paling penting—mengonstruksi atau membangun diri-baru saya yang terus berproses. Setiap kali selesai menulis, saya menemukan diri-baru saya. Apakah diri saya kemudian terus berubah-ubah? Bisa ya dan tidak. Ya karena memang setiap hari, bahkan detik, saya pasti memasukkan pengalaman baru ke dalam diri saya. Tidak karena ada diri-sejati saya yang sudah dicetak oleh Tuhan sejak awal mula saya diciptakan. Saya akan semakin dapat memahami diri-sejati saya yang dibentuk oleh Tuhan apabila saya terus mau membaca dan menuliskan diri saya. ”Man ’arafa nafsahu faqad ’arafa rabbahu” (Siapa yang berhasil mengenali dirinya, niscaya akan mengenali Tuhannya). Alhamdulillah.[]  


Minggu, 14 Juli 2013

“Tragedi Nol Buku” Akankah Berlanjut?: Antara Mengajarkan dan Mencontohkan


Oleh Hernowo






Saya baru saja selesai membaca tulisan Taufiq Ismail di majalah Horison(majalah sastra) edisi Juni 2013. Tulisan Taufiq Ismail itu berjudul  “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”. Tulisan tersebut saya baca selama perjalanan Yogya-Bandung di kereta malam Lodaya. Sebelumnya, sejak siang hari saya mencari bacaan yang dapat saya baca selama perjalanan. Majalah Horison yang mengangkat tema “Sastra dan Kurikulum  2013” akhirnya saya pilih untuk menemani saya. Tema edisi Juni 2013 itu menarik perhatian saya. Meskipun masa edarnya sudah habis, saya tetap membelinya karena ingin tahu apa yang ditulis Taufiq Ismail.

Sungguh, perjalanan Yogya-Bandung menjadi tidak melelahkan karena tulisan “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang” karya Taufiq Ismail. Pikiran saya terus bergerak ke mana-mana ketika membaca pikiran dan pendapat Taufiq Ismail. “Sekitar bulan Januari-Februari 2013 yang lalu saya dikirimi Kemdikbud dua buku ajar berjudul Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs kelas VII dan Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/SMK kelas X yang akan dipergunakan dalam kurikulum baru tahun 2013 ini,” demikian Taufiq Ismail mengawali tulisannya. “Saya diminta memberi masukan,” lanjutnya.

Berpijak dari dua buku ajar tersebutlah Taufiq Ismail seperti menuliskan (mengungkapkan) “kegeraman”-nya. Saya dapat merasakan kegeramannya itu. Tak segan-segan kegeraman itu ditunjukkan lewat kalimat-kalimat yang menggunakan huruf-huruf kapital. Bahkan ada yang diberi bingkai pula. Saya tak ingin menunjukkankannya di sini. Kegeraman itu dapat saya pahami karena saya telah membaca (dan bahkan belum lama ini saya memuatnya di catatan dii Facebook saya) “Tragedi Nol Buku” yang ditulis Taufiq Ismail pada 30 Mei 2005 (lihat https://www.facebook.com/notes/hernowo-hasim/tragedi-nol-buku-tragedi-kita-bersama-oleh-taufiq-ismail/10151589869954333). Sudah delapan tahun usia “Tragedi Nol Buku” karya Taufiq Ismail.

Delapan tahun? Ya dan pengajaran Bahasa Indonesia, menurut yang saya pahami dari “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”, tidak berubah sama sekali. Bahkan, menurut Taufiq Ismail, pengajaran Bahasa Indonesia di SMA pada saat ini masih tertinggal sekitar 63 tahun jika diukur dari model pengajaran bahasa dan sastra di AMS Hindia Belanda. “Para linguis yang mendominasi penyusunan kurikulum dan buku teks ini menghalangi (kata ini dicetak tebal—HH) anak bangsa menikmati pusaka sastra yang ditulis sastrawan Indonesia, merintangi (dicetak tebal lagi) mereka mereguk karya sastra yang akan menjadikan mereka cendekia, mencegah (lagi-lagi dicetak tebal) mereka memperoleh pencerahan batin dalam pertumbuhan kepribadian menjelang usia dewasa,” tulis Taufiq Ismail dalam bingkai kotak dan dalam huruf kapital (halaman 6).

Tentu tak hanya apa yang saya sampaikan saat ini yang diungkapkan oleh Taufiq Ismail. Ada banyak hal yang perlu kita renungkan bersama dalam “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”. Kali ini, saya akan fokus pada “dominasi linguis” dalam penyusunan kurikulum dan buku teks sebagaimana diungkapkan oleh Taufiq Ismail. Boleh jadi, linguis—dalam istilah Taufiq Ismail—adalah teoretisi bahasa. Bisa jadi juga saya salah. Namun, yang jelas, Taufiq Ismail bukanlah linguis atau teoretisi bahasa. Taufiq Ismail berada di kutub yang lain. Mungkin Taufiq Ismail dapat disebut sebagai “praktisi” bahasa. Dia sastrawan dan piawai menulis puisi. Menurut yang saya dengar, pendidikan tingginya bukan dari jurusan bahasa.



Linguis atau teoretisi bahasa versus praktisi bahasa ini kemudian memunculkan cara berbeda dalam menyampaikan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Para praktisi bahasa, khususnya Taufiq Ismail, ingin agar para siswa di jenjang SMA lebih didorong untuk berpraktik membaca dan menulis. Dalam “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”, Taufiq Ismail memutar kembali rekaman pengalamannya ketika bertemu dan bertanya kepada Elvira Karimova, pada 1996, ketika menghadiri seminar tentang sastra Indonesia-Malaysia di Moskow. Elvira, yang merupakan peserta seminar  tersebut, ditanya ihwal pengajaran Bahasa Rusia di negerinya. Elvira menjawab, “Lho, tatabahasa itu tidak diajarkan lagi di SMA, tuan Taufiq. Cukup di SD. Sedikit di SMP. Buat apa diajarkan lagi di SMA, tuan.”

“Saya sangat terkejut,” tulis Taufiq Ismail, “…Tatabahasa luar biasa menjajah pengajaran bahasa di negeri saya. Nah, jadi apa yang diajarkan di SMA Anda?” Menurut Elvira, tugas siswa SMA di Rusia ada dua: membaca buku, membaca buku, membaca buku. Lantas, menulis karangan, menulis karangan, menulis karangan. “Tapi tatabahasa kalian ruwet begitu. Masa’ di SMA tidak perlu dilatih lagi?” tanya Taufiq Ismail lagi. “Tatabahasa diperiksa dalam tulisan, tuan. Tugas mengarang ‘kan banyak. Murid bakal ketahuan kalau tatabahasanya lemah. Dia dibantu guru lewat koreksi karangannya. Toh dulu dia di SD dan SMP sudah 9 tahun diajar tatabahasa,” jawab Elvira.



Setelah itu, Taufiq Ismail pun mendaftar judul-judul buku yang dibaca siswa SMA Uva, Bashkira, tempat Elvira bersekolah dulu pada tahun 1980-an. Ada dua belas buku. Saya hanya akan menunjukkan dua buku yang disebut paling awal dan akhir. Pertama War and Peace karya Leo Tolstoy dan yang kedua belas The Prose of Paustovsky and Simonov. Taufiq Ismail lantas menulis bahwa seluruh nama yang dilaporkan Elvira ini dikenal sebagai raksasa sastra dunia. Siswa-siswa Rusia mengenal karya-karya luhur pusaka sastrawan negeri mereka itu sejak umur SMA, dan mereka sangat menikmatinya dan menerima pencerahan kecendekiaan sebagai generasi muda sebuah bangsa besar. HAL INI TIDAK TERJADI DI INDONESIA. Kurikulum Bahasa Indonesia telah memblokir karya-karya Hamzah Fansuri hingga Rendra dan Wisran Hadi (Taufiq Ismail menyebut 27 nama para sastrawan Indonesia yang sudah almarhum dan almarhumah).

Apa yang dapat saya petik dari semua itu? Mengajarkan tatabahasa memang (maaf), tampaknya, lebih mudah ketimbang mendorong siswa-siswa SMA kita untuk mau membaca dan menulis. Di dalam kegiatan menjadikan siswa-siswa SMA kita punya keinginan membaca dan menulis perlu ada contoh—tepatnya keteladanan. Di samping perlu menjadi contoh dalam membaca dan menulis, para guru Bahasa Indonesia pun harus menyediakan waktu untuk mengoreksi dan membimbing kegiatan baca-tulis para siswanya. Inilah yang mungkin menghalangi para linguis—merujuk ke Taufiq Ismail—untuk menyusun kurikulum Bahasa Indonesia yang benar-benar pro membaca dan menulis.[]



Sarinah dan Keadilan Jender: Menunggu Bung Karno? Bag-3


Oleh Hernowo


“Ah, Sarinah! Pulang berkuli di pabrik atau kebun, pulang dari berdagang di pekan yang kadang-kadang berpuluh kilometer jauhnya itu, masih menunggu lagi kepada mereka di rumah pekerjaan buat sang suami dan sang anak … Sang suami sehabis kerja merebahkan dirinya di balai-balai, …tetapi Sarinah—habis kerja di luar rumah masih ada kerja lagi baginya di dapur atau di dekat sumur.”
—Soekarno dalam Sarinah


Akhirnya, inilah alasan kelima, kenapa aku menunggu kehadiran Bung Karno. Alasan kelima ini berasal dari tulisan Karlina Supelli, “Belajar Menjadi Warga Negara: Belajar Membaca Kembali Sarinah” (dimuat di Prismaedisi khusus hal. 198-214). Siapa Sarinah? Di sinilah letak kontroversi sekaligus kehebatan Soekarno. Sarinahadalah buku karya Soekarno yang membahas hal ihwal perempuan—tepatnya tentang perjuangan (peran) kaum perempuan dalam mendirikan dan merawat bangsa. Sarinah dibuat Soekarno sebelum Presiden Pertama RI tersebut memiliki banyak istri. Mari kita fokus pada Sarinah sebagaimana dikupas oleh Karlina dengan sangat kaya dan luas.

Menurut Karlina, kita tidak perlu meragukan kualitas kesadaran Soekarno akan hak-hak perempuan, terutama pada periode pergerakan kebangsaan sampai permulaan tahun 1950-an. Sampai hari ini, belum ada lagi presiden Indonesia yang secara pribadi sedemikian bersungguh-sungguh dan mendalam mengkaji peran perempuan dalam upaya membangun bangsa, lalu menuliskannya dan menyebarluaskannya. Sesudah Soekarno, gagasan mengenai perempuan Indonesia terkungkung kembali dalam peran reproduktifnya sebagai ibu dan istri yang bertugas merawat dan menjaga keharmonisan keluarga (hal. 213).

Mengapa Soekarno menulis buku Sarinah? Aku tak menemukan jawaban langsung dan eksplisit dari Karlina. Aku hanya menemukan bahwa dengan membaca Sarinah, kita yang hidup pada masa kini akan tahu pentingnya gerakan sosialis perempuan di tengah-tengah gelombang deras kapitalisme kontemporer yang membuat remuk hidup sehari-hari perempuan kebanyakan. Kita membaca Sarinah untuk memikirkan kembali para perempuan yang kebingungan menitipkan anak, yang “jiwanya terbelah” (kata Soekarno) karena faktor usaha tempat mereka bekerja hanya mengukur tenaga produktifnya tetapi tidak peduli dengan beban tugas reproduktif mereka. Kita membaca Sarinah untuk menemukan bahwa perempuan, lewat problematik jendernya yang khas, memberi realitas kepada bangsa ini, dan dari situ memikirkan kebaikan hidup bersama.




Sungguh, aku ingin membaca Sarinah (buku ini diterbitkan ulang pada Januari 2013) karena ingin mengetahui kepedulian Soekarno terhadap kaum perempuan. Seorang pemimpin negara mau peduli terhadap kaum perempuan? Ya. “Sarinah tidak hanya memperlihatkan kesadaran jender yang tinggi, tetapi juga berisi visi Soekarno tentang peran perempuan dalam mendirikan dan merawat bangsa. Visi ini tidak berubah sejak tahun 1928,” tulis Karlina. Apakah Sarinah-Sarinah pada masa kini masih sempat merasakan visi Soekarno yang dahsyat itu?[]

Bahasa (Menggerakkan) Soekarno: Menunggu Bung Karno? Bag-2


Oleh Hernowo


Ada tiga alasan (sebagaimana telah kusebutkan sebelum ini) kenapa aku, saat ini, menunggu kehadiran Bung Karno. Tentu, yang kutunggu bukan kehadiran fisiknya. Aku menunggu semangat (spirit) dan gagasan-gagasan briliannya. Menemukan Pancasila bukan hal yang mudah. Seperti kata Daniel Dhakidae, rumusan Pancasila begitu puitik. Aku bisa merasakannya. Indonesia yang sangat majemuk memerlukan Pancasila. Hanya, bagaimana mewujudukan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan bernegara hingga kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia memang tidak mudah. Oleh karena itulah, aku ingin terus menunggu Bung Karno.

Di samping tiga alasan (yang telah kusebutkan), ada alasan keempat yang akan kutunjukkan saat ini. Alasan keempat ini muncul setelah aku membaca ulasan menarik Seno Gumira Ajidarma yag dimuat oleh Prismaedisi khusus 2013 terkait dengan bahasa (menggerakkan) Soekarno. Judul ulasan Seno memang hanya “Bahasa Soekarno: Indonesia dalam Retorika Dalang” (dimuat di halaman 174 hingga 197). Aku sengaja menambahkan kata “menggerakkan” karena, sebagaimana Ali Syariati, Soekarno begitu piawai dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk mengobarkan “api” (revolusi) di dalam diri siapa saja yang sempat mendengarkan atau membaca kata-katanya.

Yang mengagumkan, Soekarno sangat setia kepada bahasa Indonesia. Dia piawai menggunakan bahasa asing. Namun, Soekarno teguh dalam memanfaatkan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan bangsanya. Bahasa yang menggerakkan itu dia ciptakan baik secara lisan maupun tulisan. Memang, dalam pidato-pidatonyalah bahasa tersebut sangat dapat dirasakan. Mungkin karena alam ketika Soekarno hidup (dan harus berjuang melawan penjajah) memaksa dia untuk menciptakan bahasa kreatif yang menggerakkan itu. Di antara keenam presiden RI, tampaknya hanya Soekarno-lah yang memiliki kemampuan berpidato secara sangat unik dan menarik.

Aku menyebut bahasa Soekarno sebagai bahasa yang kreatif karena dia kerap mencampur pelbagai bahasa dalam wacananya. Bahasa Soekarno bisa juga disebut sebagai bahasa gado-gado atau bahasa campur aduk “Dibaca secara kronologis,” tulis Seno di halaman 182, “maka Soekarno tampak semakin piawai menjalin ungkapan berbahasa itu, seperti terbaca dari kutipan terakhir, yang bukan sekadar menyusun kalimat, melainkan telah berusaha meleburkannya ketika menyebutkan kata Belanda dalam struktur bahasa Jawa dengan akhiran ‘i’. Jika diingat, betapa Soekarno menulis dengan musikalitas orang berpidato, yakni mengandalkan daya kelisanan, maka sebetulnya penyebutan seperti ‘non-i’, ‘machtsvormingi’, dan ‘massa-aksii’ adalah model yang biasa dilakukan para pengguna bahasa Jawa dalam percakapan lisan.

“Namun ketika model yang sama hadir sebagai bahasa tulisan, meski memang berkarakter propaganda lisan, dari segi kreativitas penulisan berbahasa Indonesia tentu merupakan lompatan.” Aku ingin menggarisbawahi apa yang disampaikan Seno ini—“dari segi kreativitas penulisan berbahasa Indonesia tentu merupakan lompatan”. Soekarno telah memanfaatkan, secara sangat baik, bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Tak berhenti di situ, dia juga menciptakan pelbagai bentuk komunikasi tersebut dalam format yang sangat tidak biasa. Ini menjadikan Soekarno sebagai orator ulung yang tak tertandingi pada zamannya dan, mungkin juga, setelah zamannya. Kita seperti tak memiliki lagi orang yang berkemampuan berbahasa sebagaimana Soekarno.





Satu hal lagi yang perlu aku perhatikan adalah kutipan Seno terkait dengan komentar Virginia Matheson Hooker (dimuat di buku Yudi Latif dan Idy Subandi Ibrahim (eds.), Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru, Bandung, Mizan, 1996, hal. 71-72) atas pidato Soekarno) dalam “Bahasa dan Pergeseran Kekuasaan di Indonesia: Sorotan terhadap Pembakuan Bahasa Orde Baru”: “…pidato Soekarno disebut akrab dengan pendengarnya, melibatkan emosi, tanpa kendali, dan secara terbuka memberi kesempatan tawar menawar”. Menurut Seno, tanpa mengacu kepada tujuan politik-ekonomi saat diucapkan, slogan-slogan Soekarno seperti “jembatan emas”, “holopiskuntulbaris”, “gotong royong”, “berdikari”, dan “vivere pericoloso” terbukti menjadi ungkapan populer.[]

Menunggu Bung Karno? Bag-1


Oleh Hernowo


Mengapa menunggu Bung Karno?

Pertama, Orde Baru pernah berusaha menghapus kenangan satu bangsa terhadap Soekarno (1967-1977).Kedua, sistem kepartaian saat ini menjadi sistem organisasi yang semata-mata mengejar kepentingan diri sendiri, serta DPR tak lagi mewakili rakyatnya namun tetap bising dalam riuh-rendah politik kepentingan dan mengumbar nafsu korupsi. Ketiga, Pancasila (yang digali dan ditemukan Soekarno) hanya berada di angan-angan sementara masyarakat yang berbineka tunggal ika ini seperti gampang tercabik-cabik ketika perbedaan pendapat hadir di dalamnya serta ketika toleransi hanya menjadi basa-basi.”

Itulah tiga alasan kenapa Bung Karno perlu kupahami (kuhidupkan)- kembali (di dalam diriku) pada saat ini. Tiga alasan (khususnya alasan pertama dan kedua) kuperoleh dari edisi khusus Prisma Volume 32, No. 2 dan No. 3, 2013, yang berjudul Soekarno: Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar. Edisi Prisma kali ini terasa sangat istimewa karena memberikan wawasan kepadaku tentang Soekarno yang komplet sebagai intelektual, nasionalis, liberator, dan proklamator. Aku tak memungkiri bahwa Soekarno juga memiliki beberapa kekurangan dan sempat menjadi sosok yang penuh kontroversi. Namun, kali ini aku ingin menyingkirkan sisi kontroversialnya dan mencoba menyerap peran dan jasanya dalam membangun negara Indonesia.

Aku lahir ketika Soekarno sudah berusia seumurku saat tulisan ini kubuat. Soekarno wafat pada usia 69 tahun, ketika usiaku waktu itu baru 13 tahun. Kenanganku akan Soekarno sangat sedikit—atau mungkin, bahkan, tak ada lagi. Setahuku, pada tahun 1977, Prisma pernah mengupas sosok Soekarno namun bersama tokoh lain seperti H. Agus Salim, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir. Edisi Prisma tersebut kemudian dibukukan dengan judul Manusia dalam Kemelut Sejarah. Aku punya buku itu. Tapi, aku lupa apakah sempat membaca tentang Soekarno atau tidak. Sebab, hingga edisi khusus Prisma 2013 tentang Soekarno terbit, aku sama sekali tidak ingat akan peran-penting Soekarno dalam membangun Indonesia.





Daniel Dhakidae, Pemipim Umum/Pemimpin Redaksi Prisma mengatakan bahwa perlu konsentrasi penuh selama lima hingga enam bulan untuk mempersiapkan edisi khusus tersebut (lihat St Sularto, “Jurnal Prisma: Soekarno, Ende, Pancasila”, dalam Kompas edisi Jumat, 28 Juni 2013). Yang menarik, Daniel juga sempat menulis di Kompas pada Jumat, 31 Mei 2013, tentang edisi khusus Prisma yang sedang dipersiapkannya. Dia mengaitkan Soekarno dengan kelahiran Pancasila. Pada 1 Juni 2013, situs Bung Karno di Ende akan diresmikan secara besar-besaran. Di kawasan itu akan ada patung baru Bung Karno yang sedang merenung di bawah Pohon Sukun.

Aku tertarik memahami kembali Bung Karno—khususnya lewat edisi khususPrisma 2013—karena Daniel menulis lima hal tentang Bung Karno yang baru kutahu saat ini. Seperti kita ketahui bahwa Bung Karno dibuang ke Ende, Flores, pada Februari 1934, ketika usianya baru 33 tahun. Dan kelima hal yang menarikku itu adalah, pertama, Soekarno menjadi seorang bapak keluarga tanpa gangguan kegiatan politik seperti di Bandung. Soekarno menanam sayur mayur, memetiknya untuk dimasak di rumah kontrakannya demi lima anggota keluarganya. Sebagai bapak keluarga, Soekarno juga menjadi seorang Muslim yang taat—shalat lima kali sehari dan setiap Jumat ke masjid.

Kedua, Soekarno berhasil menghidupkan kegiatan intelektualnya dan menjadikan dirinya seorang ahli Islam. Di Jawa, keasyik-masyukannya dengan Marxisme menenggelamkan perhatiannya terhadap Islam. Meskipun demikian, ketika usianya 25 tahun, Soekarno sempat menulis sebuah tulisan berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” (1926) yang merupakan manifesto politik Soekarno muda yang brilian. Di Jawa, Soekarno melihat Islam dari luar. Di Ende, Soekarno banyak menulis dan melihat Islam dari dalam.

Ketiga, Soekarno dijauhi golongan atas di Ende dan ditakuti golongan bawah karena propaganda kolonial: dia dianggap komunis. Dia pun lantas membentuk masyarakatnya sendiri dan mempersetankan “orang pintar yang tolol”. Dia mendirikan “Kelimoetoe Toneel Club” dengan dukungan tukang jahit, sopir, nelayan; beranggaran dasar dan Soekarno sendiri direkturnya. Dia menulis dan mementaskan 13 drama dalam tempo empat tahun!

Keempat, perlahan Soekarno mengalihkan diri menjadi cendekiawan sejati dengan keluar melangkah ke suatu kelompok berbeda (dengan para pastor/misionaris). Diskusi dalam bahasa Belanda secara rutin dijalankan dengan mereka di Ende, yang rata-rata seumur dengan Soekarno, 35-40 tahun. Dalam diskusi dipelajari agama mondial dengan dukungan buku di perpustakaan pribadi para pastor itu.

Kelima, berbekal hasil diskusi itulah, renungan di bawah pohon sukun yang begitu membuai Soekarno menjadi puncak dari semua yang diperoleh di Ende, yaitu menggali dan merenung tentang Pancasila yang dilukiskan oleh Soekarno dengan begitu puitik.[]