Powered By Blogger

Minggu, 09 Maret 2014

Pendidikan Antikorupsi Dalam Keluarga



oleh : Muhammad Kosim



Bangsa ini mesti bersatu melawan korupsi. Untuk mem­berantas korupsi tidak saja dilakukan melalui penegakan hukum, akan tetapi perlu dilakukan upaya preventif berupa pendidikan tentang pemberantasan dan gawatnya korupsi itu sendiri. Semua itu mesti didukung oleh semua lapisan masyarakat.




Pendidikan antikorupsi juga mesti dilakukan di tingkat keluarga. Sebab keluarga me­rupakan lembaga pen­didikan pertama yang dialami dan diterima oleh setiap manusia. Untuk itu, pembentukan ke­pribadian paling efektif dila­kukan di tingkat keluarga.
Dalam perspektif Islam ditegaskan: jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Qs. At-Tahrim/66: 6). Pesan ini menunjukkan adanya tang­gung jawab setiap individu untuk mendidik keluarganya agar terhindari dari segala bentuk perilaku yang negatif, tidak bermanfaat atau perilaku yang dapat menimbulkan mudharat.
Orang yang paling ber­tanggung jawab dalam keluar­ga tentu kedua orang tua; ayah dan ibu. Dalam konteks pen­didikan antikorupsi ini, orang tua memiliki tanggung jawab penting dalam mendidik anak-anak dan keluarganya agar terhindar dari korupsi. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang patut dilakukan.


Pertama, menyadari bahwa hasil korupsi akan meracuni rohaniah anak dan keluarga. Dalam mindset orang tua mesti terbentuk bahwa korupsi adalah pekerjaan haram. Jika korupsi yang dilakukan itu me­ng­hasilkan uang dan di­gunakan untuk memberi makan anak dan istri, sesungguhnya ia telah membentuk keluarga yang bermental buruk, rohaniahnya rusak, sulit menerima ke­benaran dan cenderung merasa senang dan nyaman melakukan hal-hal yang diharamkan. Te­gasnya mereka jauh dari hidayah Allah.
Mengenai dampak negatif makanan yang haram terhadap perkembangan psikologis anak, juga diceritakan oleh Hamka dalam tafsirnya, al-Azhar. Ia mengutip kisah Abu Muham­mad al-Juwaini, seorang per­muda yang taat beribadah kepada Allah dan sangat ber­hati-hati kepada suata perkara yang subhat. Suatu ketika ia menikahi seorang perempuan yang shalehah, taat beribadah kepada Allah SWT. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdulmalik.
Setelah anak itu lahir, al-Juwaini berpesan sangat kepada istrinya jangan sampai ada perempuan lain yang me­nyusukan anak itu. Namun, suatu ketika istrinya sakit sehingga air susunya kering, sementara Abdilmalik yang masih bayi  itu menangis kehausan. Lalu datanglah tetangganya, seorang perem­puan yang merasa kasi­han mendengar tangisan anak itu. Perempuan itu pun mengambil dan menyusukan anak tersebut. Tiba-tiba datanglah Abu Mu­hammad al-Juwaini. Melihat anaknya disusui oleh perem­puan lain, dia pun tidak senang sehingga perempuan tersebut tahu diri dan bergegas pergi.
Kemudian al-Juwaini me­ngam­bil anak itu lalu me­nong­gengkan kepalanya dan me­ngorek mulutnya, sehingga anak itu memuntahkan air susu perempuan tetangga tadi. Beliau pun berkata: “Bagiku tidak keberatan jika anak ini mening­gal di waktu kecilnya, dari pada rusak perangainya karena me­minum susu perempuan lain, yang tidak aku kenal ke­taatannya kepada Allah.”
Anak yang bernama Ab­dulmalik itu kemudian terkenal dengan nama Imamul Haramain Abdulmalik al-Juwaini, ia adalah seorang ulama mazhab Syafi’i yang masyhur, pengikut teologi al-Asy’ari, guru dari madrasah-madrasah Naisabur dan salah seorang yang men­didik Imam al-Ghazali, sampai menjadi ulama besar pula. Kadang-kadang sedang me­ngajarkan ilmunya pernah beliau marah-marah. Ketika itu, berkatalah dia setelah sadar dari kemarahannya, bahwa “(marah) ini barangkali adalah dari bekas sisa susu perempuan lain itu, yang tidak sempat aku mun­tahkan.”
Hanya air susu dari seorang perempuan yang tak dikenal ketaatannya kepada Allah dapat berakibat mentalitas seseorang sulit mengendalikan emo­sionalnya, padahal orang ter­sebut telah menjadi ulama besar. Lalu bagaimana dengan men­talitas seorang anak yang di­besar­kan dengan hasil ko­rupsi? Dan al-Juwaini adalah prototype orang tua yang sadar bahaya makanan subhat, apalagi haram, terhadap perkembangan men­talitas anaknya.


Kedua, jangan mengukur segala sesuatu dengan materi. Orang tua mesti mengajarkan kepada anaknya bahwa yang materi bukanlah tujuan (goal), tetapi sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Namun, ter­kadang orang tua tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan telah mengajarkan kepada anaknya bahwa materi meru­pa­kan tujuan dan indikator utama dalam mencapai kesuk­sesan. Misalnya, mem­berikan reward atau peng­hargaan kepada anak hanya dengan materi semata. Jika anak meraih prestasi, maka orang tuanya memberi imbalan berupa uang. Jika anak mau disuruh, juga diberi imbalan uang. Dan seterusnya. Akibatnya, psi­kologis anak akan terbentuk dengan “segala sesuatu diukur dengan uang”.
Boleh saja reward yang diberikan berupa materi. Namun mesti seimbang de­ngan mengoptimalkan spiri­tualitasnya. Imbalan tidak hanya berupa uang, tetapi bisa berupa pujian, ucapan yang menyenangkan, atau dengan cara berbagi dengan sesama; anak yatim, fakir miskin dan sebagainya.
Begitu pula dengan mem­berikan arti tentang sukses, janganlah diukur dengan materi semata. Ketika mem­bimbing anak untuk bercita-cita, jangan hanya karena besarnya jumlah uang yang dihasilkan dari apa yang dicita-citakan. Tetapi cita-cita tersebut dipilih karena diang­gap profesi itu banyak mem­beri manfaat bagi orang lain, berperan eksis di tengah masyarakat, hidup bernilai dan diridhai Allah SWT.


Ketiga, memberikan kete­ladan kepada keluarga. Orang tua mesti menjadi teladan bagi anak-anaknya untuk tegas mengatakan tidak pada korup­si. Orang tua senantiasa mem­berikan pemahaman kepada anaknya bahwa hidup yang bernilai bukanlah kemewahan, tetapi keteguhan hati dalam menjalankan nilai-nilai ke­benaran.
Selain itu, korupsi tidak saja dipahami dari segi materi seperti mengambil uang yang bukan haknya. Tetapi korupsi juga dapat terjadi pada waktu, atau korupsi waktu. Hidup disiplin, menghargai waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif merupakan hal penting yang mesti diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak­nya dengan penerapan, bukan teori semata.
Keempat, memberikan pemahaman kepada anak sejak dini bahwa korupsi adalah perbuatan tercela. Orang tua hendaknya menanamkan ke­ben­cian terhadap korupsi. Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa ketika seorang sahabat bernama Kirkirah mati di medan perang, Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi me­nye­lidiki perbekalan pe­rangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari dalam kitab Jihad wa al-sair). Demikian kerasnya kecaman Islam terhadap para koruptor.

Selain itu, untuk me­nanam­kan kebencian ter­hadap korup­si, orang tua perlu me­negaskan bahwa ke­banggaannya sebagai orang tua bukanlah karena anak-anaknya kelak menjadi orang kaya-raya, tetapi ke­banggaan yang sebenarnya adalah ketika menyaksikan anak-anaknya menjadi orang yang shaleh, teguh memegang prinsip kebenaran. Dengan begitu diharapkan mereka akan menjadi insan yang berprinsip, tidak mudah tergoda oleh pengaruh lingkungan yang rusak, termasuk korupsi yang seakan membudaya.
Terakhir orang tua juga hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah agar anak dan keluarganya terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat, terutama perbuatan yang ter­kutuk, seperi korupsi ini. Doa Nabi Ibrahim as patut dicontoh oleh orang tua: "Rabbi habli minashshalihin, Ya Allah anugerahkanlah kepadaku anak yang shaleh”.
Dengan upaya dan doa seperti ini, insya Allah kita mampu melahirkan anak-anak yang anti terhadap korupsi. Mereka tetap istiqamah me­negakkan kebenaran dan me­me­rangi kebatilan. Insya Allah.



Sumber : http://www.harianhaluan.com/



Al-Ghazali dan Pendidikan Anti-Korupsi


Tidak ada bayi baru lahir langsung jadi koruptor. Manusia lahir asalnya bersih, kullu mawlkdin ykladu ‘alal fitrah, kata Nabi. Kejahatan dan sifat tercela diperoleh dari lingkungan dan intelektualnya.

Bayi lahir asalnya bersih, Kullu mauludin yuladu alal fitrah

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif

HAMPIR setiap hari sejak beberapa bulan terakhir, kita dibombardir berita korupsi dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari tingkat pusat sampai level kelurahan. Dari pegawai biasa hingga pejabat tinggi. Dari pengusaha hingga politisi. Tak terkecuali jaksa, hakim, dan polisi, bahkan menteri. Sepanjang tahun 2004 hingga 2012 saja, data dari Kemendagri mencatat, ada 2.976 anggota DPRD Tingkat I dan DPRD Tingkat II terlibat tindakan kriminal, dimana 33,2 persen atau 349 kasus adalah korupsi. Umumnya kasus manipulasi anggaran atau mark-up biaya pengadaan barang, fasilitas dan jasa. Juga pemungutan biaya ilegal atas layanan publik, pemberian suap alias gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang atau jabatan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi maupun relasi.
Di satu sisi, berita-berita tersebut justru menimbulkan frustasi ketimbang harapan. Kepercayaan masyarakat jadi makin surut pada institusi-institusi di negeri ini. Alih-alih prihatin atau malu, publik maupun pelaku kini sama-sama menjadikan korupsi sebagai bahan guyonan, karena kritik dan sindiran setajam apapun tak lagi mempan. Seperti seloroh Mbah Kartolo di TIM Jakarta: “Paling enak numpak motor, paling aman numpak sepur. Paling aman dadi koruptor, nek konangan ya ndek Singapur”. Maksudnya: paling nyaman naik motor, paling aman naik kereta. Paling aman jadi koruptor, kalau ketahuan kabur ke Singapur(a). Maka muncul di sisi lain tanda tanya besar dalam benak kita: Apakah sebab ini semua dan adakah obatnya?
Tiga Teori
Secara umum, penjelasan para ahli mengenai korupsi dapat dikelompokkan menjadi tiga.
Pertama, teori kesempitan yang mengatakan bahwa orang korupsi karena gajinya kecil, pendapatannya rendah, hidupnya susah, kebutuhan banyak. Maka solusinya, menurut teori ini, kesejahteraan perlu ditingkatkan dan gaji dinaikkan. Namun masalahnya, jika teori kesempitan ini benar, mengapa banyak pelaku korupsi itu ternyata orang-orang yang kehidupannya makmur? Maka disodorkanlah dua tipe korupsi: yaitu korupsi karena kesempitan hidup (corruption out of need) dan korupsi karena rakus (corruption out of greed). Seperti hasil penelitian Vito Tanzi (1998, hlm. 572), kenaikan gaji dan kecukupan tidak menjamin orang berhenti atau enggan korupsi.
Teori kedua boleh kita namakan teori kesempatan. Menurut teori ini, orang korupsi karena adanya kesempatan, kendati awalnya mungkin tidak punya keinginan atau rencana sama sekali. Namun teori ini pun bermasalah juga. Apakah semua orang yang punya kesempatan pasti korupsi? Bukankah pada kenyataannya tidak sedikit orang berkesempatan korupsi tetapi tidak melakukannya? Teori yang berpijak pada asumsi keliru ini menganggap manusia itu cenderung berbuat jahat. Maka dari itu semua pintu korupsi hendaklah dikunci rapat-rapat. Jangan sekali-sekali memberi ruang atau peluang walau sedikit atau sekecil apapun.
Namun lagi-lagi masalahnya seperti kata Iwan Fals (1986), “Otak tikus memang bukan otak udang.” Otak koruptor tidak sama dengan otak komputer. Jika sudah niat korupsi, ada atau tidak ada kesempatan itu bukanlah persoalan. Kesempatan bisa dicari, bahkan diciptakan. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
Adapun yang ketiga adalah teori kelemahan. Pendukung teori ini percaya bahwa tindak korupsi merebak akibat lemahnya tata kelola pemerintahan (poor governance), lemahnya sarana penegakan hukum (weak legal infrastructure), dan lemahnya mekanisme pengawasan (weak monitoring system). Namun, teori ini pada gilirannya terjebak dalam logika ‘muter-muter’ alias circular reasoning. Bahwasanya korupsi disebabkan oleh pemerintahan yang lemah, dan pemerintahan yang lemah disebabkan oleh korupsi. Pemerintahan mesti kuat agar korupsi lenyap, dan korupsi baru lenyap bila pemerintahan kuat. Jadilah pertanyaannya sekarang bagaimana memutus lingkaran setan ini.
Perspektif Agama
Karena korupsi adalah tindakan curang untuk mendapatkan uang ataupun keuntungan dengan cara menyalahi, melangkahi, dan mengakali aturan hukum dan undang-undang negara, maka termasuk tindak korupsi itu memberi dan menerima suap (bribery), mencuri (theft) atau menggelapkan (embezzlement), melakukan pemalsuan (fraud), pemerasan (extortion), dan menyalahgunakan wewenang atau jabatan (graft). Semua praktek ini hukumnya jelas haram. Agama melarang keras perbuatan korupsi segala bentuk: ghisysy (menipu), mencuri (sariqah), menggelapkan (ghulul), menyuap (rasywah), dan menerima atau meminta suap (irtisya’).
“Siapa bertindak curang [yakni korupsi] niscaya datang dengan kecurangannya itu pada hari kiamat kelak”, firman Allah dalam al-Qur’an (3:161).
Menurut Imam ar-Razi, curang di sini maksudnya mengambil hak [milik negara] secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi (at-Tafsir al-Kabir, cetakan Beirut 2005, jilid 3, juz. 9, hlm. 62).
Kanjeng Nabi Muhammad pun telah bersabda: “Wahai manusia, siapapun yang menjalankan tugas untuk kami, lalu dia menyembunyikan dari kami barang sekecil jarum atau lebih, maka apa yang disembunyikannya itu adalah kecurangan [yakni korupsi] yang kelak dibawanya pada hari kiamat”, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad.
Bahkan dalam hadits lain, “Seutas tali sekalipun akan menjadi api neraka atau dua utas talipun akan menjadi api neraka [seandainya tidak dikembalikan].” (HR: Imām al-Bukhārī).
Kalau secara normatif agama begitu gamblang hukumnya, lantas mengapa faktanya kejahatan korupsi begitu sukar untuk dihentikan? Apabila kita cermati secara mendalam, niscaya jelas bahwa korupsi itu nyaris tidak ada hubungannya dengan status agama pelakunya.
Tindakan korupsi lebih erat kaitannya dengan soal mentalitas daripada identitas agama. Sebagaimana halnya kebersihan, kedisiplinan dan kerja-keras lebih banyak ditentukan oleh sikap dan watak individu ketimbang afiliasi ideologinya.
Nabi mengatakan, “Manusia itu ibarat logam. Kalau aslinya emas, maka apapun bentuknya –cincin, kalung, ataupun gelang– tetap emas.” Jika seseorang itu dasarnya baik, rajin dan jujur, maka dia akan menjadi Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha yang baik, rajin dan jujur. Sebaliknya jika wataknya buruk, licik, dan pemalas, maka apapun agamanya akan tetap jahat dan buruk perangainya.
Memang betul, manusia bukanlah logam. Manusia lahir asalnya bersih, kullu mawlūdin yūladu ‘alal fitrah, kata Kanjeng Nabi. Tidak ada bayi baru lahir langsung jadi koruptor. Kejahatan dan sifat-sifat tercela seperti halnya akhlak terpuji diperoleh dari lingkungan sosial dan intelektualnya. Jadi tak salah kalau disimpulkan bahwa korupsi itu hasil pembelajaran, pergaulan, dan pendidikan.
Di sinilah langkah kongkrit pemerintah (Kemendiknas) bersama KPK memperkenalkan mata pelajaran dan mata kuliah anti-korupsi di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi patut dipuji dan didukung sepenuh hati.
Betapa besar pengaruh pendidikan terhadap korupsi telah lama disinyalir oleh Ibn Khaldun, pakar sosiologi dan sejarawan Muslim klasik. Masyarakat yang sekian lama mengalami penindasan dan kekerasan biasanya akan menjadi bangsa yang korup. Kezaliman dan penindasan menyempitkan jiwa, menguras semangat, dan akhirnya membuat mereka jadi bangsa pemalas, pembohong dan licik. Meski berlawanan dengan hati nurani, hal itu dilakukan jua demi menghindari penindasan yang lebih berat dari penguasa. Lama-kelamaan, berbuat jahat dan menipu melekat jadi kebiasaan dan karakter mereka (Students, slaves, and servants who are brought up with injustice and tyranny are overcome by it. It makes them feel oppressed and causes them to lose their energy. It makes them lazy and induces them to lie and behave viciously. They contradict their conscience for fear of suffering further oppression. Thus they learn deceit and trickery). Demikian tulisnya dalam kitab ‘al-Muqaddimah’ yang diterjemahkan oleh Franz Rosenthal (1967).
Namun, disamping langkah-langkah legal, politis dan edukatif, pencegahan korupsi juga perlu menggunakan pendekatan spiritual agama. Kalau Anda puasa, jangankan yang haram, sedang yang halal pun tidak Anda makan. Sementara yang tidak puasa punya pilihan memakan yang halal saja, yang syubhat (belum tentu halal dan boleh jadi haram), atau bahkan yang haram.
Pada akhirnya semua ini kembali pada sikap. Menurut Imam al-Ghazālī, paling utama sikap orang sholeh dan wara’ yang menjauhi semua kategori karena zuhud. Yang pertengahan itu sikap orang bertaqwa yang menghindari syubhat dan menolak yang haram. Yang paling rendah adalah sikap tidak peduli halal haram dan sebagainya. Inilah resep Imam al-Ghazali untuk pendidikan anti-korupsi.*


Peneliti INSISTS dan Dosen ISID Gontor

Sumber : hidayatullah.com





Senin, 26 Agustus 2013

Aku Kehilanganmu - d'Masiv



Official Music Video by d'Masiv performing "Aku Kehilanganmu" taken from the album "Persiapan"

© 2012 PT. Musica Studio's
Song & Lyric by Rian Ekky Pradipta




Baru kali ini ku merasa kehilangan kamu
Saat kau tak ada di sini, di sampingku
Bertahun-tahun aku jalani hidup denganmu
Kini harus berakhir selamanya, selamanya

Aku sedih tanpa dirimu
Sedih tanpa pelukmu, sedih kehilanganmu

Haruskah ku sudahi perasaanku padamu
Tapi aku belum yakin aku bisa melupakanmu

Aku sedih tanpa dirimu
Sedih tanpa pelukmu, sedih kehilanganmu

Apa kau dengar aku, mendengar tangisanku
Aku di sini mengharapkan dirimu

Aku sedih tanpa dirimu
Sedih tanpa pelukmu, sedih kehilanganmu
Aku mati tanpa dirimu
Mati setiap hari, mati rasa ini
Mati rasa ini, aku kehilanganmu


Jumat, 23 Agustus 2013

Mozaik


Cerpen Wina Bojonegoro (Media Indonesia, 17 Maret 2013)


VIE:

ADA sejumlah pertanyaan yang membiang di dadaku. Bagai hendak meletus, seperti balon kebanjiran udara.
Pertama, jika pasanganmu diam ketika ia tahu kau telah berdusta padanya. Kau mestinya bertanya; ia diam karena sudah tak ingin ribut atau sudah tak peduli apa pun. Coba kau cerna pertanyaan ini, meski kau tak punya waktu menggunakan hatimu. Mungkin saja hatimu telah kisut, kering seperti kain pel yang lupa diangkat dari jemuran.
Kedua, apakah kau mengerti, ia kehilangan senyum karena saban hari mendapati meja makan yang sunyi. Tak ada percakapan pagi. Ia diam karena kau lebih mencintai lalu lintas politik yang kusut, konspirasi antarpartai atau antargerombolan membuatmu begitu lekat mencintai kongsi-kongsimu, lupa pada kongsi utama yang dulu kau beri label ‘belahan jiwa’.
Ketiga, tahukah kau bahwa ia dilanda kebosanan tingkat dewa? Jenuh dengan rutinitas dan rambut sasak, serta perhiasan yang membebani sekujur tubuhnya. Ia merindukan hal-hal sederhana, suara denting piring, sendok-garpu, dan percakapan lembut dari hati, di antara lamat-lamat suara piano.
Keempat, marahkah kau jika ia menemukan pundak lain, yang kukuh meski ia tak berkilau sepertimu? Tak bersayap selaiknya kedua lenganmu yang mampu terbang mengelilingi dunia dalam tujuh hari. Pundak yang selalu ada saat ia butuhkan, yang menunduk hormat ketika kau ada di antaranya, yang tersenyum sopan seolah kepalanya bisa kau jerembapkan di lantai rumahmu yang mengilat. Pundak lelaki yang kau bayar hanya Rp 5 juta setiap bulan, untuk mengajarinya membuat sketsa, bermain piano, berbahasa asing, dan segala kebutuhan nonfisik yang tak sanggup kau berikan.
Kelima, ingatkah kau pernah menjambak rambutnya pada suatu malam, sambil kau telikungkan kedua tangan di punggungnya, dan kau bilang, “Kau sepertinya pintar, namun sesungguhnya bodoh!” Laki-laki seperti dia tak punya apa pun kecuali kepandaian memikat wanita dengan piano atau hasil sketsa murahan dari tangannya yang kering dan berdebu. Ingatkah kau bagaimana ia menggigit bibirnya hingga berdarah setelah kau banting tubuhnya. Ia hanya menatap wajahmu dengan mata kosong, ekspresinya melesap bersama tetes keringatmu yang membuncah. Sejak saat itu kau telah kehilangannya. Demi Tuhan, kau telah membuat kekeliruan besar malam itu.
Ia istrimu, Bram. Kau nikahi dengan janji suci pernikahan, jika kau sakiti tubuhnya, atau kau abaikan selama beberapa bulan, ia boleh menceraikanmu. Benar begitu Bram? Kini ia telah menjadi manusia zombi, kau telah mencetaknya sedemikian rupa. Ia istrimu, ia adalah aku.

SHA:

Saya menulis catatan ini karena saya kangen kamu, Bram. Bukan pleidoi dari apa yang saya lakukan semalam, atau malam-malam sebelumnya. Kadang saya begitu kalap, tak memikirkan risikonya. Kebetulan saya sedang senang, dan ingin mengabarkan padamu, saya pikir kalian akan senang melihat saya senang. Setidaknya, saya akan sibuk dan sejenak melupakanmu.
Bram, sekarang saya tahu artinya memilih. Sebenarnya, semalam saya sedih ketika kau berpikir saya sengaja membuat kalian bertengkar. Sungguh, saya tak sejahat itu. Tapi, saya memilih untuk tidak sedih, dan saya berhasil. Saya bangun pagi dengan senyum, setelah sebelumnya saya sulit tidur dan terus memikirkan kalian. Ya, saya memilih untuk tidur nyenyak dan tidak memikirkan kalian. Saya berhasil. Saya tahu apa artinya memilih dan mencintai diri sendiri.
Bram, benar saya mencintaimu. Benar, saya tak mau kamu pergi. Benar, saya ingin menghabiskan sisa hidup denganmu, menjadi istrimu, simpananmu, pacar gelapmu, apa pun namanya, asal bersamamu. Tapi, bukan berarti saya kemudian akan mau menjadi perempuan lemah di hadapanmu. Akan saya katakan TIDAK jika memang begitu adanya. Sebaliknya, akan saya katakan YA jika memang benar itu yang ada padaku. Tidak akan saya biarkan kamu menjajah kebebasan perasaan saya, menghakimi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak pernah menghakimi apa yang kau rasakan, yang kau pikirkan. Saya bebaskan kamu Bram, seperti saya tak pernah menuntutmu selama ini.
Dengan cinta, saya menunggumu Bram. Menunggu kau merindukan saya kembali. Maaf, sebenarnya saya tak sanggup berlama-lama tak menemuimu seperti ini. Saya hanya ingin tahu bahwa kau masih merindukan saya. Dan kau akan menemui saya kembali, meski istrimu tahu.
Temui aku, atau aku akan gila karenamu. Aku bisa gila karenamu, dan kau tak akan pernah tahu kegilaan apa yang bakal kulakukan terhadap kalian.

JO:

Maafkan aku, Vie. Terpaksa aku jujur padamu. Aku telah melihat seluruh isi hatimu meski kau tidak mengatakan apa pun padaku. Kau memiliki caramu sendiri untuk melepaskan atau menyembunyikan fakta-fakta, bahkan mungkin suasana hatimu. Tapi sebagai lelaki, meski dengan rentang usia yang tak bisa dibilang pendek, aku dapat membaca setiap gerak tubuhmu, desah napasmu, juga kepak kelopak matamu. Kau butuh pertolongan!
Sejak awal aku tak ingin terlibat dalam urusanmu, Vie. Itu standar operasi seorang pelatih privat, apakah untuk pelajaran bahasa asing, piano, atau sketsa, yang ketiganya kau minati. Aku guru, profesionalitasku bukan diukur dengan uang, melainkan oleh nilai. Sejauh mana muridku berhasil menyerap ilmu. Tentu aku bersukacita ketika suamimu membayarku dengan angka cukup bombastis. Baginya, uang hanya soal remeh-temeh, tinggal menjentikkan jemari, uang berlari mengikutinya.
Vie, tapi bagi seorang guru, uang bukan masker untuk menutup matanya dari segala hal yang dapat ditangkap dari kedua kelopaknya. Hatiku bergemuruh, seolah ruangan ini hendak runtuh, ketika kau duduk sendiri di ruang makan besar itu, mendengarkan rekaman piano kita, pelajaran minggu lalu. Waktu itu kita memainkan What a Wonderful World. Kau bilang, lagu itu hanya membuatku semakin terhina, namun kau tak menjelaskan maksudnya, dan aku tak ingin memaksamu bercerita. Di rumah besar yang sunyi itu, kau duduk sendiri seperti dewi kesunyian. Kau menawariku makan, aku tidak menolak. Sebab bukan makan yang kau butuhkan, melainkan teman berbincang, dan suara sendok garpu yang sederhana. Perbincangan soal cuaca, acara televisi, kemacetan lalu lintas, harga sembako, atau gosip artis. Hari itu tak ada kursus apa-apa, kita hanya berbicara, menyeduh kopi dan saling mengamati wajah masing-masing.
Seperti biasa, kau selalu bersemangat dan tampak baik-baik saja, dalam situasi apa pun. Namun dari caramu tersenyum dan mengerling, caramu menyuapkan makanan, mengunyah, mengedip, aku tahu, kau membutuhkan seorang teman. Kau tidak butuh guru, les privat hanya kamuflase pembunuhan waktu. Kau sedang mencoba mengikuti saran seorang psikolog, yang kau bayar mahal akibat depresimu yang berlapis-lapis: kesepian, banyak uang, tak punya teman, ditinggalkan pasangan untuk bersama perempuan lain. Maka, aku mengubah cara menerima panggilan teleponmu. Sebelumnya, dengan hormat aku akan berkata, “Selamat pagi, Ibu.” Tapi sejak itu, aku bilang, “Hei.” Sederhana bukan? Kau menyukai nada mengalun yang ramah dan akrab itu. Kau mencair, kabut di matamu menguap. Mendung di senyummu berguguran, berubah jadi musim semi. Tak ada yang lebih surgawi bagi seorang manusia, selain menyadari kehadirannya adalah oase bagi orang lainnya. Kau sadari atau tidak, aku adalah oase bagimu.
Aku gembira ketika kau tak lagi menunggu suamimu pulang. Ia seorang pejabat publik, katamu. Kehadirannya dibutuhkan di mana-mana Para menteri membutuhkannya, ketua partai, konstituen, bahkan presiden. Ia orang hebat, wajahnya sering tampil di koran, ia layak untuk sibuk, dan pasti tak punya waktu untuk urusan domestik. Yang ia butuhkan adalah formalitas, upacara-upacara, peresmian-peresmian. Seiring kesadaranmu, yang entah jujur atau kau hanya mencoba mengalah, kau mulai melepaskan keinginan untuk ditemani Bram. Ia lebih dibutuhkan oleh pihak lain daripada istrinya, hiburmu. Kau hidup dengan duniamu sekarang.
Vie, semula aku gembira dengan semua itu. Aku adalah oase bagimu dan Bram adalah mesin ATM yang sempurna. Tapi ketika kau tergugu di depan piano dengan sasak rambutmu yang belum terurai, serta busana pesta gemerlapmu, aku mencium aroma kematian. Kau sudah lama tidak menangis, matamu tak pernah sembab lagi. Waktu itu kau hanya bilang, “kita ketahuan.”
Maafkan aku Vie.
Aku tahu, Sha bukan satu-satunya perempuan dalam lingkarannya saat ini. Ada Rien, Sue, dan Mer. Tapi Sha adalah yang kau kenal karena dia orang dalam yang kau percaya. Itulah yang kucoba menjelaskannya padamu, namun kau menutup telingamu. Kau hanya takut, atau malu memiliki hati yang dipungut seorang kelas jelata semacamku? Tidak Vie, aku lelaki. Yang harus kulakukan adalah menghadapinya. Menantangnya. Mengajaknya memilih, siapa yang lebih layak di antara kami, untuk memilikimu seutuhnya.
***
Sebuah pistol jenis Heckler & Koch kaliber 45 meletus. Peredam membuat suaranya tak begitu menyita perhatian siapa pun di sekitar rumah besar itu. Seorang lelaki roboh di lantai marmer. Noda merah membasahi karpet.
Bram, “Tak ada kata maaf untuk seorang penyusup, Bung!” (*)


Untuk Diana AV Sasa
Penulis tinggal di Surabaya. Buku cerpennya, Korsakov (2012)


Salawat Dedaunan

(Kumpulan Cerpen Kompas)

Penulis : Yanusa Nugroho 




MASJID itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.

Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah.

Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.

Begitu besarnya pohon trembesi itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke segala arah, membentuk semacam payung, membuat kita pun akan berpikir, masjid ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali.

Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.

Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang. Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan, tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya—sebagaimana dilakukan banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya. Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak.

Daun-daun trembesi berguguran setiap hari, seperti taburan bunga para peziarah makam. Buah-buahnya yang tua berserakan di halaman. Satu-dua anak memungutnya, mengeluarkan biji-bijinya yang lebih kecil daripada kedelai itu, menjemurnya, menyangrai, dan menjadikannya camilan gurih di sore hari. Jelas tak ada orang yang secara khusus menyapu halaman setiap hari.

Terlalu luas untuk sebuah pekerjaan gratisan. Semua maklum, termasuk Haji Brahim.

***

Suatu siang, seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk bersila di lantai masjid. Haji Brahim masih berzikir sementara dua orang itu tengah menghitung uang amal yang masuk hari itu.

“Tiga puluh ribu, Pak,” ucap salah seorang seperti protes pada entah apa.

“Alhamdulilah.”

“Dengan yang minggu lalu, jumlahnya 75.000. Belum cukup untuk beli cat tembok.”

“Ya, sudah… nanti kan cukup,” ujar Haji Brahim tenang.

Sesaat ketika kedua orang itu akan berdiri, di halaman dilihatnya ada seorang nenek tua tengah menyapu pandang. Haji Brahim pun menoleh dan dilihatnya nenek itu dengan badan bungkuk, tertatih mendekat.

“Alaikum salam…, Nek,” jawab salah seorang pengurus, sambil mengangsurkan uang 500-an.

Tapi si nenek diam saja. Memandangi si pemberi uang dengan pandangannya yang tua.

“Ada apa?” tanya Haji Brahim, seraya mendekat.

“Saya tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”

Sesaat ketiga pengurus masjid itu terdiam. Angin bertiup merontokkan dedaunan trembesi. Satu dua buahnya gemelatak di atap.

“Silakan nenek ambil wudu dan shalat,” ujar Haji Brahim sambil tersenyum.

Nenek itu diam beberapa saat. Tanpa berkata apa pun, dia kemudian memungut daun yang tergeletak di halaman. Daun itu dipungutnya dengan kesungguhan, lalu dimasukkannya ke kantong plastik lusuh, yang tadi dilipat dan diselipkan di setagen yang melilit pinggangnya. Setelah memasukkan daun itu ke kantong plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya….

Ketiga orang itu ternganga. Sesaat kemudian, karena melihat betapa susah payahnya si nenek melakukan pekerjaan sederhana itu, salah seorang kemudian mendekat dan membujuk agar si nenek berhenti. Tapi si nenek tetap saja memunguti daun-daun yang berserakan, nyaris menimbun permukaan halaman itu.

Haji Brahim dan seorang pengurus kemudian ikut turun dan mengambil sapu lidi.

“Jangan… jangan pakai sapu lidi… dan biarkan saya sendiri melakukan ini.”

“Tapi nanti nenek lelah.”

“Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?” ujar si nenek seperti bergumam.

Haji Brahim tercekat. Ada sesuatu yang menyelinap di sanubarinya.

Dilihatnya si nenek kembali memungut dan memungut daun-daun itu helai demi helai. Dan, demi mendengar apa yang tergumam dari bibir tua itu, Haji Brahim menangis.

Dari bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia menggumamkan, “Gusti, mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastik.

Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si nenek. Di matanya, si nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang mencari jalan pengampunan.

***

Hari bergulir ke Magrib. Dan si nenek masih saja di tempat semula, nyaris tak beranjak, memunguti dedaunan yang selalu saja berguguran di halaman. Tubuh tuanya yang kusut basah oleh keringat. Napasnya terengah-engah. Ketiga orang itu tak bisa berbuat lain, kecuali menjaganya. Ketika maghrib tiba, dan orang-orang melakukan sembahyang, si nenek masih saja memunguti dedaunan.

“Siapa dia?” bisik salah seorang jemaah kepada temannya, ketika mereka meninggalkan masjid. Tentu saja tak ada jawaban, selain “entah”.

“Nek, istirahatlah… ini sudah malam.”

“Kalau bapak mau pulang, silakan saja… biarkan saya di sini dan melakukan ini semua.”

“Nek, mengapa nenek menyiksa diri seperti ini?”

“Tidak. Saya tidak menyiksa diri. Ini… mungkin bahkan belum cukup untuk sebuah ampunan,” ucapnya sambil menghapus air matanya.

Haji Brahim terdiam. Mencoba mereka-reka apa yang telah diperbuat si nenek di masa lalunya.

***

Malam itu, Haji Brahim pulang cukup larut karena merasa tak tega meninggalkan si nenek. Pengurus masjid yang semula akan menunggui, sepulang Haji Brahim, ternyata juga tak tahan. Bahkan, belum lagi lima menit Haji Brahim pergi, dia diam-diam pulang.

Tak ada yang tahu apakah si nenek tertidur atau terjaga malam itu. Begitu subuh tiba, Mijo yang akan azan Subuh mendapati si nenek masih saja melakukan gerakan yang sama. Udara begitu dingin. Beberapa kali si nenek terbatuk.

***

Peristiwa si nenek itu ternyata mengundang perhatian banyak orang. Mereka berdatangan ke masjid. Niat mereka mungkin ingin menyaksikan si nenek, tetapi begitu bertepatan waktu shalat masuk, mereka melakukan shalat berjemaah. Tanpa mereka sadari sepenuhnya, masjid itu jadi semarak. Orang datang berduyun-duyun, membawa makanan untuk si nenek, atau sekadar memberinya minum. Dan, semuanya selalu berjemaah di masjid.

Dua hari kemudian, tepat ketika kumandang waktu Ashar terdengar, si nenek tersungkur dan meninggal. Orang-orang terpekik, ada yang mencoba membawanya ke puskesmas, tetapi entah mengapa tak jadi.

Hari itu juga polisi datang. Karena semua orang tak tahu siapa keluarga si nenek, akhirnya diputuskan si nenek dimakamkan di halaman belakang masjid.

Ketika semua orang sibuk, Haji Brahim tercekat. Dia tiba-tiba merasa sunyi menyergapnya. Dia menyapu pandang, ada yang aneh di matanya. Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai tanah.

Sudut mata Haji Brahim membasah. “Semoga kau temukan jalanmu, Nek,” gumamnya.

Dan ketika semua orang, yang puluhan jumlahnya itu, secara bersamaan menemukan apa yang dipandang Haji Brahim, mereka ternganga. Bagaimana mungkin halaman masjid bisa sebersih seperti itu.

***

Lama setelah kisah itu sampai kepadaku, aku tercenung. Rupanya, menurut Haji Brahim kepadaku, nenek itu hadir mungkin sebagai contoh. “Mungkin juga dia memang berdosa besar—sesuai pengakuannya kepada saya,” ucap Haji Brahim kepadaku beberapa waktu lalu. “Dan… dia melakukan semacam istighfar dengan mengumpulkan sebanyak mungkin daun yang ada di halaman, mungkin begitu… saya tak yakin. Yang jelas, mata kami jadi terbuka. Sekarang masjid kami cukup ramai.”

“Pasti banyak yang mau menyapu halaman,” godaku.

“Iya… ha-ha-ha… benar.”

“Memangnya bisa begitu, Ji?”

“Maksudnya, ampunan Allah? Ya, saya yakin bisa saja. Allah maha-berkehendak, apa pun jika Dia berkenan, masak tidak dikabulkan?” ucap Haji Brahim tenang.

Aku terdiam. Kubayangkan dedaunan itu, yang jumlahnya mungkin ribuan helai itu, melayang ke hadirat Allah, membawa goresan permohonan ampun. (*) - Kompas, 2 Oktober 2011


 .