Minggu, 14 Juli 2013

Bahasa (Menggerakkan) Soekarno: Menunggu Bung Karno? Bag-2


Oleh Hernowo


Ada tiga alasan (sebagaimana telah kusebutkan sebelum ini) kenapa aku, saat ini, menunggu kehadiran Bung Karno. Tentu, yang kutunggu bukan kehadiran fisiknya. Aku menunggu semangat (spirit) dan gagasan-gagasan briliannya. Menemukan Pancasila bukan hal yang mudah. Seperti kata Daniel Dhakidae, rumusan Pancasila begitu puitik. Aku bisa merasakannya. Indonesia yang sangat majemuk memerlukan Pancasila. Hanya, bagaimana mewujudukan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan bernegara hingga kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia memang tidak mudah. Oleh karena itulah, aku ingin terus menunggu Bung Karno.

Di samping tiga alasan (yang telah kusebutkan), ada alasan keempat yang akan kutunjukkan saat ini. Alasan keempat ini muncul setelah aku membaca ulasan menarik Seno Gumira Ajidarma yag dimuat oleh Prismaedisi khusus 2013 terkait dengan bahasa (menggerakkan) Soekarno. Judul ulasan Seno memang hanya “Bahasa Soekarno: Indonesia dalam Retorika Dalang” (dimuat di halaman 174 hingga 197). Aku sengaja menambahkan kata “menggerakkan” karena, sebagaimana Ali Syariati, Soekarno begitu piawai dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk mengobarkan “api” (revolusi) di dalam diri siapa saja yang sempat mendengarkan atau membaca kata-katanya.

Yang mengagumkan, Soekarno sangat setia kepada bahasa Indonesia. Dia piawai menggunakan bahasa asing. Namun, Soekarno teguh dalam memanfaatkan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan bangsanya. Bahasa yang menggerakkan itu dia ciptakan baik secara lisan maupun tulisan. Memang, dalam pidato-pidatonyalah bahasa tersebut sangat dapat dirasakan. Mungkin karena alam ketika Soekarno hidup (dan harus berjuang melawan penjajah) memaksa dia untuk menciptakan bahasa kreatif yang menggerakkan itu. Di antara keenam presiden RI, tampaknya hanya Soekarno-lah yang memiliki kemampuan berpidato secara sangat unik dan menarik.

Aku menyebut bahasa Soekarno sebagai bahasa yang kreatif karena dia kerap mencampur pelbagai bahasa dalam wacananya. Bahasa Soekarno bisa juga disebut sebagai bahasa gado-gado atau bahasa campur aduk “Dibaca secara kronologis,” tulis Seno di halaman 182, “maka Soekarno tampak semakin piawai menjalin ungkapan berbahasa itu, seperti terbaca dari kutipan terakhir, yang bukan sekadar menyusun kalimat, melainkan telah berusaha meleburkannya ketika menyebutkan kata Belanda dalam struktur bahasa Jawa dengan akhiran ‘i’. Jika diingat, betapa Soekarno menulis dengan musikalitas orang berpidato, yakni mengandalkan daya kelisanan, maka sebetulnya penyebutan seperti ‘non-i’, ‘machtsvormingi’, dan ‘massa-aksii’ adalah model yang biasa dilakukan para pengguna bahasa Jawa dalam percakapan lisan.

“Namun ketika model yang sama hadir sebagai bahasa tulisan, meski memang berkarakter propaganda lisan, dari segi kreativitas penulisan berbahasa Indonesia tentu merupakan lompatan.” Aku ingin menggarisbawahi apa yang disampaikan Seno ini—“dari segi kreativitas penulisan berbahasa Indonesia tentu merupakan lompatan”. Soekarno telah memanfaatkan, secara sangat baik, bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Tak berhenti di situ, dia juga menciptakan pelbagai bentuk komunikasi tersebut dalam format yang sangat tidak biasa. Ini menjadikan Soekarno sebagai orator ulung yang tak tertandingi pada zamannya dan, mungkin juga, setelah zamannya. Kita seperti tak memiliki lagi orang yang berkemampuan berbahasa sebagaimana Soekarno.





Satu hal lagi yang perlu aku perhatikan adalah kutipan Seno terkait dengan komentar Virginia Matheson Hooker (dimuat di buku Yudi Latif dan Idy Subandi Ibrahim (eds.), Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru, Bandung, Mizan, 1996, hal. 71-72) atas pidato Soekarno) dalam “Bahasa dan Pergeseran Kekuasaan di Indonesia: Sorotan terhadap Pembakuan Bahasa Orde Baru”: “…pidato Soekarno disebut akrab dengan pendengarnya, melibatkan emosi, tanpa kendali, dan secara terbuka memberi kesempatan tawar menawar”. Menurut Seno, tanpa mengacu kepada tujuan politik-ekonomi saat diucapkan, slogan-slogan Soekarno seperti “jembatan emas”, “holopiskuntulbaris”, “gotong royong”, “berdikari”, dan “vivere pericoloso” terbukti menjadi ungkapan populer.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar