Minggu, 14 Juli 2013

Sarinah dan Keadilan Jender: Menunggu Bung Karno? Bag-3


Oleh Hernowo


“Ah, Sarinah! Pulang berkuli di pabrik atau kebun, pulang dari berdagang di pekan yang kadang-kadang berpuluh kilometer jauhnya itu, masih menunggu lagi kepada mereka di rumah pekerjaan buat sang suami dan sang anak … Sang suami sehabis kerja merebahkan dirinya di balai-balai, …tetapi Sarinah—habis kerja di luar rumah masih ada kerja lagi baginya di dapur atau di dekat sumur.”
—Soekarno dalam Sarinah


Akhirnya, inilah alasan kelima, kenapa aku menunggu kehadiran Bung Karno. Alasan kelima ini berasal dari tulisan Karlina Supelli, “Belajar Menjadi Warga Negara: Belajar Membaca Kembali Sarinah” (dimuat di Prismaedisi khusus hal. 198-214). Siapa Sarinah? Di sinilah letak kontroversi sekaligus kehebatan Soekarno. Sarinahadalah buku karya Soekarno yang membahas hal ihwal perempuan—tepatnya tentang perjuangan (peran) kaum perempuan dalam mendirikan dan merawat bangsa. Sarinah dibuat Soekarno sebelum Presiden Pertama RI tersebut memiliki banyak istri. Mari kita fokus pada Sarinah sebagaimana dikupas oleh Karlina dengan sangat kaya dan luas.

Menurut Karlina, kita tidak perlu meragukan kualitas kesadaran Soekarno akan hak-hak perempuan, terutama pada periode pergerakan kebangsaan sampai permulaan tahun 1950-an. Sampai hari ini, belum ada lagi presiden Indonesia yang secara pribadi sedemikian bersungguh-sungguh dan mendalam mengkaji peran perempuan dalam upaya membangun bangsa, lalu menuliskannya dan menyebarluaskannya. Sesudah Soekarno, gagasan mengenai perempuan Indonesia terkungkung kembali dalam peran reproduktifnya sebagai ibu dan istri yang bertugas merawat dan menjaga keharmonisan keluarga (hal. 213).

Mengapa Soekarno menulis buku Sarinah? Aku tak menemukan jawaban langsung dan eksplisit dari Karlina. Aku hanya menemukan bahwa dengan membaca Sarinah, kita yang hidup pada masa kini akan tahu pentingnya gerakan sosialis perempuan di tengah-tengah gelombang deras kapitalisme kontemporer yang membuat remuk hidup sehari-hari perempuan kebanyakan. Kita membaca Sarinah untuk memikirkan kembali para perempuan yang kebingungan menitipkan anak, yang “jiwanya terbelah” (kata Soekarno) karena faktor usaha tempat mereka bekerja hanya mengukur tenaga produktifnya tetapi tidak peduli dengan beban tugas reproduktif mereka. Kita membaca Sarinah untuk menemukan bahwa perempuan, lewat problematik jendernya yang khas, memberi realitas kepada bangsa ini, dan dari situ memikirkan kebaikan hidup bersama.




Sungguh, aku ingin membaca Sarinah (buku ini diterbitkan ulang pada Januari 2013) karena ingin mengetahui kepedulian Soekarno terhadap kaum perempuan. Seorang pemimpin negara mau peduli terhadap kaum perempuan? Ya. “Sarinah tidak hanya memperlihatkan kesadaran jender yang tinggi, tetapi juga berisi visi Soekarno tentang peran perempuan dalam mendirikan dan merawat bangsa. Visi ini tidak berubah sejak tahun 1928,” tulis Karlina. Apakah Sarinah-Sarinah pada masa kini masih sempat merasakan visi Soekarno yang dahsyat itu?[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar