Minggu, 14 Juli 2013

“Tragedi Nol Buku” Akankah Berlanjut?: Antara Mengajarkan dan Mencontohkan


Oleh Hernowo






Saya baru saja selesai membaca tulisan Taufiq Ismail di majalah Horison(majalah sastra) edisi Juni 2013. Tulisan Taufiq Ismail itu berjudul  “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”. Tulisan tersebut saya baca selama perjalanan Yogya-Bandung di kereta malam Lodaya. Sebelumnya, sejak siang hari saya mencari bacaan yang dapat saya baca selama perjalanan. Majalah Horison yang mengangkat tema “Sastra dan Kurikulum  2013” akhirnya saya pilih untuk menemani saya. Tema edisi Juni 2013 itu menarik perhatian saya. Meskipun masa edarnya sudah habis, saya tetap membelinya karena ingin tahu apa yang ditulis Taufiq Ismail.

Sungguh, perjalanan Yogya-Bandung menjadi tidak melelahkan karena tulisan “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang” karya Taufiq Ismail. Pikiran saya terus bergerak ke mana-mana ketika membaca pikiran dan pendapat Taufiq Ismail. “Sekitar bulan Januari-Februari 2013 yang lalu saya dikirimi Kemdikbud dua buku ajar berjudul Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs kelas VII dan Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/SMK kelas X yang akan dipergunakan dalam kurikulum baru tahun 2013 ini,” demikian Taufiq Ismail mengawali tulisannya. “Saya diminta memberi masukan,” lanjutnya.

Berpijak dari dua buku ajar tersebutlah Taufiq Ismail seperti menuliskan (mengungkapkan) “kegeraman”-nya. Saya dapat merasakan kegeramannya itu. Tak segan-segan kegeraman itu ditunjukkan lewat kalimat-kalimat yang menggunakan huruf-huruf kapital. Bahkan ada yang diberi bingkai pula. Saya tak ingin menunjukkankannya di sini. Kegeraman itu dapat saya pahami karena saya telah membaca (dan bahkan belum lama ini saya memuatnya di catatan dii Facebook saya) “Tragedi Nol Buku” yang ditulis Taufiq Ismail pada 30 Mei 2005 (lihat https://www.facebook.com/notes/hernowo-hasim/tragedi-nol-buku-tragedi-kita-bersama-oleh-taufiq-ismail/10151589869954333). Sudah delapan tahun usia “Tragedi Nol Buku” karya Taufiq Ismail.

Delapan tahun? Ya dan pengajaran Bahasa Indonesia, menurut yang saya pahami dari “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”, tidak berubah sama sekali. Bahkan, menurut Taufiq Ismail, pengajaran Bahasa Indonesia di SMA pada saat ini masih tertinggal sekitar 63 tahun jika diukur dari model pengajaran bahasa dan sastra di AMS Hindia Belanda. “Para linguis yang mendominasi penyusunan kurikulum dan buku teks ini menghalangi (kata ini dicetak tebal—HH) anak bangsa menikmati pusaka sastra yang ditulis sastrawan Indonesia, merintangi (dicetak tebal lagi) mereka mereguk karya sastra yang akan menjadikan mereka cendekia, mencegah (lagi-lagi dicetak tebal) mereka memperoleh pencerahan batin dalam pertumbuhan kepribadian menjelang usia dewasa,” tulis Taufiq Ismail dalam bingkai kotak dan dalam huruf kapital (halaman 6).

Tentu tak hanya apa yang saya sampaikan saat ini yang diungkapkan oleh Taufiq Ismail. Ada banyak hal yang perlu kita renungkan bersama dalam “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”. Kali ini, saya akan fokus pada “dominasi linguis” dalam penyusunan kurikulum dan buku teks sebagaimana diungkapkan oleh Taufiq Ismail. Boleh jadi, linguis—dalam istilah Taufiq Ismail—adalah teoretisi bahasa. Bisa jadi juga saya salah. Namun, yang jelas, Taufiq Ismail bukanlah linguis atau teoretisi bahasa. Taufiq Ismail berada di kutub yang lain. Mungkin Taufiq Ismail dapat disebut sebagai “praktisi” bahasa. Dia sastrawan dan piawai menulis puisi. Menurut yang saya dengar, pendidikan tingginya bukan dari jurusan bahasa.



Linguis atau teoretisi bahasa versus praktisi bahasa ini kemudian memunculkan cara berbeda dalam menyampaikan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Para praktisi bahasa, khususnya Taufiq Ismail, ingin agar para siswa di jenjang SMA lebih didorong untuk berpraktik membaca dan menulis. Dalam “Mendidik Anak Bangsa Cinta Membaca Buku dan Piawai Mengarang”, Taufiq Ismail memutar kembali rekaman pengalamannya ketika bertemu dan bertanya kepada Elvira Karimova, pada 1996, ketika menghadiri seminar tentang sastra Indonesia-Malaysia di Moskow. Elvira, yang merupakan peserta seminar  tersebut, ditanya ihwal pengajaran Bahasa Rusia di negerinya. Elvira menjawab, “Lho, tatabahasa itu tidak diajarkan lagi di SMA, tuan Taufiq. Cukup di SD. Sedikit di SMP. Buat apa diajarkan lagi di SMA, tuan.”

“Saya sangat terkejut,” tulis Taufiq Ismail, “…Tatabahasa luar biasa menjajah pengajaran bahasa di negeri saya. Nah, jadi apa yang diajarkan di SMA Anda?” Menurut Elvira, tugas siswa SMA di Rusia ada dua: membaca buku, membaca buku, membaca buku. Lantas, menulis karangan, menulis karangan, menulis karangan. “Tapi tatabahasa kalian ruwet begitu. Masa’ di SMA tidak perlu dilatih lagi?” tanya Taufiq Ismail lagi. “Tatabahasa diperiksa dalam tulisan, tuan. Tugas mengarang ‘kan banyak. Murid bakal ketahuan kalau tatabahasanya lemah. Dia dibantu guru lewat koreksi karangannya. Toh dulu dia di SD dan SMP sudah 9 tahun diajar tatabahasa,” jawab Elvira.



Setelah itu, Taufiq Ismail pun mendaftar judul-judul buku yang dibaca siswa SMA Uva, Bashkira, tempat Elvira bersekolah dulu pada tahun 1980-an. Ada dua belas buku. Saya hanya akan menunjukkan dua buku yang disebut paling awal dan akhir. Pertama War and Peace karya Leo Tolstoy dan yang kedua belas The Prose of Paustovsky and Simonov. Taufiq Ismail lantas menulis bahwa seluruh nama yang dilaporkan Elvira ini dikenal sebagai raksasa sastra dunia. Siswa-siswa Rusia mengenal karya-karya luhur pusaka sastrawan negeri mereka itu sejak umur SMA, dan mereka sangat menikmatinya dan menerima pencerahan kecendekiaan sebagai generasi muda sebuah bangsa besar. HAL INI TIDAK TERJADI DI INDONESIA. Kurikulum Bahasa Indonesia telah memblokir karya-karya Hamzah Fansuri hingga Rendra dan Wisran Hadi (Taufiq Ismail menyebut 27 nama para sastrawan Indonesia yang sudah almarhum dan almarhumah).

Apa yang dapat saya petik dari semua itu? Mengajarkan tatabahasa memang (maaf), tampaknya, lebih mudah ketimbang mendorong siswa-siswa SMA kita untuk mau membaca dan menulis. Di dalam kegiatan menjadikan siswa-siswa SMA kita punya keinginan membaca dan menulis perlu ada contoh—tepatnya keteladanan. Di samping perlu menjadi contoh dalam membaca dan menulis, para guru Bahasa Indonesia pun harus menyediakan waktu untuk mengoreksi dan membimbing kegiatan baca-tulis para siswanya. Inilah yang mungkin menghalangi para linguis—merujuk ke Taufiq Ismail—untuk menyusun kurikulum Bahasa Indonesia yang benar-benar pro membaca dan menulis.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar