Kamis, 18 Juli 2013

Menemukan Diri lewat Menulis?


Oleh Hernowo



“Apa yang paling penting dan paling berharga yang Pak Hernowo temukan ketika menulis?” tanya seorang sahabat Facebook saya suatu ketika. Dia bertanya seperti itu setelah membaca tulisan saya yang berjudul “Menulis untuk Menemukan”. Secara cepat, dan tanpa berpikir terlalu lama, saya pun kemudian mengambil dan menayangkan dua kutipan berikut ini. Dua kutipan berikut merupakan kutipan favorit saya apabila saya diminta seseorang untuk memaknai kegiatan membaca dan menulis. Entah kenapa, dua kutipan berikut ini sangat saya senangi. Mungkin keduanya mampu menyalakan “api” semangat membaca dan menulis saya hingga berkobar-kobar tak terkira setiap kali saya usai membacanya. Dan setiap kali saya mengutip keduanya, hati saya pun berbunga-bunga:




Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang-orang lain—entah mereka nyata atau imajiner—merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kita mengenai siapa sebenarnya diri kita ini dan bisa menjadi seperti apakah kita.” URSULA K. LE GUIN

”Menulis sesungguhnya adalah ekspresi hati dan curahan jiwa kita yang terdalam. Karena itu, keaslian sesungguhnya merupakan kata kunci di sini. Bagi seorang penulis sejati, perasaan otentik sangat penting dan keotentikan itulah sesungguhnya yang hendak dikomunikasikan seorang penulis kepada setiap pembaca tulisannya. Menulis sesungguhnya adalah sebuah proses untuk menjadi diri kita yang sebenarnya. Bahkan menulis sesungguhnya adalah sebuah proses untuk menjadi diri kita yang seutuhnya, sebuah proses pergulatan untuk menemukan diri kita yang sejati.” ARVAN PRADIANSYAH

Kutipan pertama tentang membaca berasal dari seorang penulis novel dan kutipan kedua tentang menulis berasal dari penulis yang juga seorang motivator. Saya sangat menyukai dua kutipan tersebut karena cocok dengan diri saya ketika sedang melakukan kegiatan membaca dan menulis. Membaca, bagi saya, adalah melakukan perjalanan yang jauh dan menantang. Buku yang saya baca, kadang, saya anggap bagaikan kapal yang siap mengantarkan saya ke wilayah-wilayah yang tidak terduga. Saya kadang menemukan diri saya yang sedang berada tersembunyi di tumpukan kata-kata yang diciptakan dan disusun oleh seorang penulis. Ada kalanya juga saya menolak diri saya sendiri yang saya temukan di halaman sebuah buku.

Kutipan dari Arvan saya temukan belakangan. Kalau kutipan dari Ursula saya abadikan di buku yang sangat saya sukai, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza (2003), kutipan Arvan kadang saya perkenalkan di kerlas-kelas pelatihan menulis yang saya ampu. Terus terang saja, tidak mudah untuk menjelaskan makna dua kutipan tersebut. Saya tidak tahu, kenapa membaca dan menulis yang cara melakukannya berbeda tersebut dapat mengantar seseorang yang melakukannya untuk menemukan diri. Saya mampu mengalaminya tetapi, sesungguhnya, saya tidak mampu menjelaskannya. Diri seperti apa sesungguhnya yang saya temukan ketika saya membaca dan menulis?

Yang jelas, membaca sesungguhnya adalah belajar memahami pengalaman orang lain—baik yang kita baca (pelajari) itu berasal dari buku fiksi maupun nonfiksi. Lewat membaca, pengalaman seorang penulis—dalam bahasa Ursula disebut ”pengalaman nyata atau imajiner”—kita serap dan masukkan ke dalam diri kita. Pengalaman seorang penulis kemudian bercampur dengan pengalaman diri kita. Proses percampuran pengalaman baru (dari seorang penulis) dan pengalaman lama (yang sudah ada di dalam diri kita) itu menjadikan diri kita lebih jelas sosoknya. Diam-diam, mungkin tanpa saya sadari, diri saya terbentuk lebih jelas ketika saya sedang membaca dan menuliskan hasil membaca saya. Ketika saya membaca huruf, kata, kalimat, dan sebagainya dalam buku tersebut, seluruh komponen bahasa itu kemudian membantu saya membangun diri saya. Saya pun, pada akhirnya, mengenali diri saya setahap demi setahap.

Ketika menulis, saya sesungguhnya sedang mengeluarkan diri saya dengan bantuan kata-kata yang saya miliki yang telah saya serap dan kumpulkan sebelumnya lewat membaca. Kekayaan kata yang saya miliki (akibat membaca) sangat membantu saya mengeluarkan dan merumuskan diri-sejati saya serta—ini yang paling penting—mengonstruksi atau membangun diri-baru saya yang terus berproses. Setiap kali selesai menulis, saya menemukan diri-baru saya. Apakah diri saya kemudian terus berubah-ubah? Bisa ya dan tidak. Ya karena memang setiap hari, bahkan detik, saya pasti memasukkan pengalaman baru ke dalam diri saya. Tidak karena ada diri-sejati saya yang sudah dicetak oleh Tuhan sejak awal mula saya diciptakan. Saya akan semakin dapat memahami diri-sejati saya yang dibentuk oleh Tuhan apabila saya terus mau membaca dan menuliskan diri saya. ”Man ’arafa nafsahu faqad ’arafa rabbahu” (Siapa yang berhasil mengenali dirinya, niscaya akan mengenali Tuhannya). Alhamdulillah.[]  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar