Minggu, 14 Juli 2013

Menulis untuk Menemukan






Oleh Hernowo


“Pak Hernowo, untuk apa Pak Hernowo menulis?” pertanyaan tak terduga ini tiba-tiba muncul di sebuah pelatihan menulis sekitar seminggu lalu. Seingat saya, waktu itu, saya tak bisa menjawab langsung. Bahkan, saya agak gelapagan menjawabnya. Pertanyaan ini menarik untuk saya renungkan kembali dan jawab sekali lagi di hari ini. Hari ini, usia saya tepat 56 tahun. Saya merasa mampu menulis dengan baik dan akhirnya percaya diri dalam menghasilkan karya tulis ketika usia saya 44 tahun (2001). Waktu itu, saya menerbitkan buku pertama berjudul Mengikat Makna dan akhirnya buku tersebut, seakan-akan, memberikan “merk” kepada diri saya yang mampu menulis.

Kini sudah 12 tahun usia “merk” itu. Buku saya pun sudah bertambah banyak. Apa sesungguhnya makna menulis bagi saya? Mengapa saya harus menulis? Apa manfaat yang saya peroleh ketika saya menulis? Apa pula yang mendorong saya untuk menulis? Apakah jawaban saya saat ini akan sama dengan jawaban atau keadaan saya sekitar 12 tahun lalu ketika berusaha membangkitkan kepercayaan diri saya dalam menulis? Apakah dengan kehadiran teknologi-geser dalam menjalankan gadget membuat paradigma menulis saya pun berubah drastis? Ya, apa kira-kira makna menulis bagi saya pada saat ini?

Setelah saya renungkan cukup mendalam, jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan itu ternyata ada di sesi ketiga pelatihan menulis yang saya lakukan seminggu lalu. Setiap kali saya memberikan pelatihan menulis, saya tentu mengajak para peserta untuk melewati tiga sesi praktik (mengalami) menulis. Teori, konsep, atau teknik-teknik menulis jelas sangat penting. Namun, mengalami menulis jauh lebih penting daripada semua itu. Sesi satu adalah “membuang” pikiran, sesi dua “mengolah pikiran”, dan sesi tiga “menemukan gagasan”. Sesungguhnya, proses ketiga sesi itu biasa-biasa saja dan tidak ada yang berbeda dengan pelatihan-pelatihan saya sebelumnya. Hanya, pertanyaan seorang peserta itu, rupanya, mengubah secara radikal pemahaman saya atas sesi tiga saat itu.

Saya menjadikan sesi tiga yang bernama “menemukan gagasan” sebagai kegiatan menulis untuk menemukan. Menemukan apa? Menemukan sesuatu yang penting dan berharga! Ya, saya senantiasa berhasil membangkitkan motivasi menulis di dalam diri saya karena saya sejak dahulu senantiasa mempersepsi menulis sebagai kegiatan untuk menemukan sesuatu yang penting dan berharga. Memang, tak selamanya upaya saya untuk “menemukan” itu berhasil. Kadang, begitu saya selesai menulis, saya tidak menemukan apa-apa meskipun saya sudah menulis ratusan kata. Jika saya mengalami hal ini, itulah kegiatan menulis yang saya sebut sebagai “menulis dalam kehampaan”.

Saya sungguh berharap bahwa ke depan saya masih terus dapat mempertahankan kegiatan menulis untuk menemukan. Sebab, saya tak pernah melepaskan menulis dari membaca. Bahkan, kadang, saya mampu menulis karena sebelumnya saya mengawalinya dengan membaca. Membaca bukan pekerjaan mudah. Nah, dengan dibantu oleh kegiatan menulis untuk menemukan itulah, membaca menjadi lebih menantang dan mengasyikkan serta jauh lebih ringan saya lakukan. Setiap kali membaca, saya pun memaksa diri saya untuk melanjutkan kegiatan membaca dengan menulis. Saya harus bertanya kepada diri saya yang sedang membaca, “Apa yang kuperoleh dari bacaanku ini?”

Berpijak pada pertanyaan tersebutlah saya kemudian menulis untuk menemukan sesuatu yang penting dan berharga.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar