Selasa, 04 Juni 2013

30 Hari Menulis Menelusuri Kenangan....




Oleh Hernowo


Seluruh bahan untuk karya sastra saya ini adalah masa lalu saya.
—MARCEL PROUST

Alhamdulillah, saya berhasil lagi menulis nonstop selama 30 hari. Ritual ini saya lakukan untuk menjaga stamina menulis dan, juga, membaca saya. Saya tak ingin “mengikat makna” yang sudah saya rumuskan sekitar 9 tahun lalu itu tak berdaya. Saya akan terus menggunakan dan memperbaikinya. Berkat “mengikat makna”—menggabungkan secara sangat ketat kegiatan membaca dan menulis dalam satu paket—diri saya menjadi kaya raya. Bukan uang atau harta yang saya punya, tapi ilmu.

Ketika saya menulis selama 30 hari nonstop setiap hari, saya juga harus membaca. Kenangan itu ternyata tidak bisa muncul begitu saja. Kenangan harus dipancing atau “diobok-obok”—meminjam kata-kata Joshua—agar kenangan itu membanjir keluar dan dapat saya tuliskan. Kenangan yang saya inginkan keluar itu adalah kenangan ketika saya dulu, semasa duduk di SMA dan perguruan tinggi, secara mencicil membaca karya-karya sastra. Saya membaca karya sastra sesuai pilihan saya. Saya membaca bukan karena tugas yang diberikan oleh sekolah. Saya membaca karena naluri saya.


Ketika mendengar Pusat Dokumentasi (PDS) Sastra H.B. Jassin mau tutup, tiba-tiba saja kenangan lama itu mendorong saya untuk menulis—dalam bahasa saya saat ini menulis adalah identik dengan “mengikat”. Lewat kegiatan “mengikat makna”, kenangan itu—semoga ada manfaatnya—dapat saya bagikan kepada orang lain. Namun, bukan itu yang saya tuju sesungguhnya. Dengan “mengikat makna”, saya pun membangun-kembali (merekonstruksi) kenangan-kenangan itu menjadi ilmu. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” begitu pesan Sayyidina Ali kepada saya.

Mula-mula saya menemukan judul kecil yang saya jadikan serial tulisan saya: “Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra”. Saya berpendapat bahwa untuk “menghidupi” PDS H.B. Jassin tak ada cara lain kecuali bangsa ini mau membiasakan membaca. Tentu saja, uang dan alat-alat untuk memindahkan materi teks ke materi digital penting. Namun, setelah uang terkumpul dan alat-alat tersedia, isi PDS itu baru akan menyala dan bermanfaat jika dibaca, diteliti, dan diserap “makna”-nya. Saya juga ingin bukan hanya PDS H.B. Jassin yang dinyalakan dan dipedulikan. “PDS-PDS” lain di daerah dan, terutama, lembaga arsip dan perpustakaan yang menyimpan warisan sastra dan budaya, perlu juga diperhatikan dan disulut agar menyala.


Saya menitikkan airmata ketika, suatu hari, edisi Kompas Minggu memajang tulisan tangan Chairil Anwar di halaman depan. Bukan karena sedih atau kecewa atau marah; saya benar-benar bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa. Itu bukan sekadar tulisan tangan. Itu adalah warisan yang sangat berharga dari seorang penyair Angkatan ’45. Ada kenangan. Ada upaya. Ada kesungguhan di dalam tulisan tangan itu. Meski, saya tahu benar, bahwa tulisan tangan yang berisi puisi itu sudah dicetak dalam bentuk lain—dan mungkin nanti ada bentuk digitalnya—namun betapa bangsa ini telah menyia-nyiakan dokumentasi yang sangat berharga itu.

Ketika saya dulu berkunjung ke British Museum di London, saya sempat menyaksikan tulisan tangan Virginia Woolf—novelis Inggris yang dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar sastra modern—yang disimpan dalam pigura kaca yang indah. Juga coretan tangan Paul McCartney—salah satu anggota grup musik The Beatles—ketika menciptakan lirik “Yesterday” juga masih dapat saya rasakan kedahsyatan energinya karena disimpan dengan rapi dan indah dalam sebuah kotak kaca. Saya ingin tulisan tangan Chairil Anwar juga dihargai dan dilindungi agar generasi yang hidup 100 tahun lagi dapat merasakan bahwa ada energi luar biasa yang dimiliki sang penyair.


Saya memulai memunculkan kenangan-lama lewat jasa sederet puisi. Puisi-puisi itu berhasil membangkitkan keindahan dalam diri saya. Lewat puisi, saya diajari untuk merasakan keindahan yang disampaikan oleh kata-kata. Selanjutnya, saya mencoba mengeluarkan kenangan-lama saya yang berbentuk keindahan teater (seni pertunjukan), lukisan (seni rupa), musik (seni suara), dan baru kemudian buku-buku sastra. Buku-buku sastra tak sekadar berisi kata. Sastra, bagi saya, adalah kehidupan yang sangat bermakna. Seperti kata Marcel Proust yang pendapatnya saya kutip untuk mengawali tulisan ini, sastra—bagi yang dapat menciptakan karya-karya sastra—dapat membantu seseorang untuk tidak mengabaikan perjalanan panjang dalam menempuh kehidupan yang sangat berkualitas.

Di dunia ini, kita tidak langsung menjadi sesuatu. Kita menjadi sesuatu yang, semoga, bermakna lewat sebuah proses panjang. Dan tentu saja, setelah kita hidup di dunia ini, kita masih harus hidup di alam lain. Memiliki kenangan akan perjalanan jauh kita di dunia adalah sebuah modal yang sangat penting untuk—kelak—menempuh perjalanan yang lebih panjang dan jauh di alam sana. Buku-buku sastra telah membantu saya dalam memperkaya perjalanan saya di dunia. Dan tak berhenti di situ, buku-buku sastra telah memberikan kepada saya sebuah kehidupan yang indah dan bermakna. Saya ingin megenangnya nanti jika sudah hidup di alam sana—tentu yang saya kenang adalah jasa para sastrawan yang buku-bukunya sempat saya baca.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar