Senin, 03 Juni 2013

Menulis Mengalir



Oleh Hernowo Hasim



Di beberapa acara seminar dan pelatihan menulis, istilah “menulis mengalir” ini sudah sempat saya perkenalkan. Juga di beberapa buku dan tulisan-tulisan esai-pendek saya. Saya merasakan bahwa saya baru merasa percaya diri untuk menampilkan kegiatan “menulis mengalir” itu pada awal 2011.

Saya bersyukur dapat membaca sebuah artikel pendek karya Farid Gaban. Dalam artikel tersebut, Farid menunjukkan kepada saya adanya beberapa penulis hebat—dalam dan luar negeri—yang berhasil menyajikan tulisannya dalam gaya “creative non-fiction” (menulis tulisan nonfiksi secara kreatif atau menulis tulisan nonfiksi secara fiksi).

Tak lupa, lewat artikelnya, Farid mendaftar mendaftar lima syarat yang perlu dimiliki seorang yang ingin dapat menggunakan gaya “creative non-fiction”. Lima syarat tersebut adalah pertama, punya rasa ingin tahu yang tinggi dan ketekunan; kedua, ingin membagi tulisannya ke siapa saja; ketiga, dirinya dilibatkan dengan materi yang ditulisnya; keempatresourcefulness (suka membaca, melihat, dan mendengar banyak hal); dan kelima, punya kemampuan mendongeng (menjadi storyteller).

Setelah membaca artikel Farid, tercetuslah—di benak saya—konsep “menulis mengalir”. “Menulis mengalir” adalah sebuah kegiatan menulis yang dapat membantu si penulis untuk mengeluarkan dirinya lewat kata-kata yang dipilih, disusun, dan dirangkainya. Artinya, kata-kata yang dituliskannya itu—yang berhasil membangun sebuah makna—memang benar-benar mewakili dirinya yang unik.

Apa persyaratan yang perlu dipenuhi seseorang yang ingin “menulis mengalir”? Persis sama dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Farid Gaban. Dalam kesempatan ini, saya ingin memberikan contoh praktis bagaimana “menulis mengalir” itu dapat Anda coba praktikkan.

Pertama, Anda perlu mempersepsi bahwa Anda sendirian di muka bumi ketika ingin menjalankan kegiatan “menulis mengalir”.

Kedua, gunakanlah kata ganti orang pertama—“aku” atau “saya”—di awal kalimat yang ingin Anda ciptakan. Contoh, “Aku mau menulis apa hari ini?” atau “Saya baru saja membaca buku karya Rhenald Kasali,Change! ; apa yang saya peroleh dari buku tersebut?”

Ketiga, terus bertanya kepada diri sendiri tentang sesuatu yang ingin ditulis serta—ini penting sekali—hindarkan diri untuk mengoreksi tulisan.

Bagi saya sendiri, “menulis mengalir” ini baru merupakan kegiatan menulis yang setengah jalan—alias masih berada di angka lima puluh persen. “Menulis mengalir” adalah kegiatan menulis untuk mengeluarkan bahan-bahan tulisan yang masih sangat mentah.

Nah, agar hasil dari kegiatan “menulis mengalir” itu lengkap dan utuh, diperlukan kegiatan tambahan yang lima puluh persen. Pertama, mengendapkan hasil “menulis mengalir” itu selama satu hari. Kedua, membaca secara “ngemil” dan bersuara hasil yang sudah sehari diendapkan. Dan ketiga, merevisi—bukan mengoreksi tulisan yang salah-- yaitu menambahkan “visi” baru dalam tulisan tersebut.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar