Selasa, 04 Juni 2013

Membaca Buku yang Setara Bertafakur?


Oleh Hernowo


The Thinker

[Ini tulisan lama saya. Waktu itu saya tulis setelah saya diwawancara Radio PR-FM di Bandung tentang buku baru saya, Mengikat Makna Update. Saya tampilkan lagi karena ada sebuah lembaga di Bandung yang mengajak saya untuk menggalakkan minat membaca. Saya bertanya dalam hati: “Apa menariknya kegiatan membaca di era serbadigital seperti saat ini ya?”]



Membaca adalah sebuah suaka yang paling pribadi dan subjektif. Sebuah ruang-hening yang personal. Melewati bahasa, seorang pembaca secara aktif menerjemahkan teks untuk dirinya—sebuah penggalian makna dan penjelajahan ke kedalaman. SVEN BIRKETS

“Membaca dan menulis bukanlah soal metode atau teknik, melainkan soal hidup dan keberanian,” demikian tulis Romo Sindhunata dalam mengantarkan buku saya, Main-Main dengan Teks (2004). Dan inilah yang saya bincangkan kemarin, Kamis 29 Oktober 2009, di Radio PR-FM ketika saya diminta membahas buku terbaru saya yang akan beredar di toko-toko buku di awal November ini, Mengikat Makna Update.

Merujuk ke pernyataan Sven Birkets, ketika saya membahas kegiatan membaca, saya ingin seseorang tidak hanya berhubungan dengan lautan huruf mati. Jika kegiatan membacanya hanya berkutat dengan huruf, kata, dan kalimat, kita akan cepat merasa jenuh dan bosan. Sebagaimana kata Birkets, kita harus berusaha untuk menjalankan kegiatan membaca agar diri kita dapat melakukan “penggalian makna dan penjelajahan ke kedalaman.”

Membaca sebagaimana dikatakan oleh Birkets adalah membaca yang dalam (deep reading). Saya ingin menegaskan di sini bahwa deep reading bukan kegiatan yang ringan dan mudah. Namun, seseorang yang berhasil menjalankan deep reading akan dapat meraih pelbagai manfaat luar biasa dari membaca. Salah satunya, misalnya, adalah—menurut riset para ahli otak—orang tersebut akan terhindar dari kepikunan di hari tua. Deep readingmampu menggerakkan seluruh komponen otak seorang manusia. Bahkan, yang menakjubkan, deep reading akan membantu seseorang dalam menumbuhkan neuron-neuron (sel saraf otak) baru!

Terlepas dari semua itu, saya juga menyadari bahwa—merujuk ke Nicholas Carr yang menulis dengan bagus sebuah renungan tentang efek-buruk internet (lihat bukunya, The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains, W.W. Norton & Company Inc., New York, 2010) jika dikaitkan dengan deep reading—membaca model Birkets itu banyak dihindari oleh orang-orang zaman sekarang. Kebanyakan orang, pada saat ini, menjalankan kegiatan membaca dengan lompat sana dan lompat sini, atau tanpa perenungan yang sangat mendalam. Tentu bukan hanya internet penyebabnya. 

Nah, saya bersyukur karena dapat menemukan konsep “mengikat makna” yang membuat saya dapat membaca dan tetap menjalankan kegiatan perenungan yang sangat mendalam. Setelah membaca, saya pasti menuliskan apa yang saya baca. Menjalankan kegiatan menulis, setelah membaca, sangat menolong saya sehingga saya tetap dapat menjalankan kegiatan berefleksi atau bertafakur ketika saya sedang membaca. Salam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar