Kamis, 13 Juni 2013

Kartini Pribadi yang (Gemar) Membaca: Amazing Kartini! (3)



Kartini Pribadi yang (Gemar) Membaca: Amazing Kartini! (3)
Oleh Hernowo
“Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja.”
—Kartini (Surat kepada Stella, 18 Agustus 1899)
Kartini suka membaca dan kesukaannya ini membuat pikirannya terbuka dan terus menginginkan perubahan. Tempo menulis,“Kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan, inilah semboyan di masa Revolusi Prancis yang didapat Kartini dari bacaannya.” Apa yang diperoleh Kartini itu kemudian diterapkan ketika bergaul dengan adik-adiknya selepas masa pingitan. Kepada kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah, Kartini mulai menerapkan gagasannya tentang persamaan derajat. Dia membebaskan kedua adiknya dari tradisi unggah-ungguh yang berlebihan. Sebagai contoh, dia tak mau adik-adiknya berjalan berjongkok ketika melewatinya. Kartini juga dengan tegas melarang adik-adiknya menyembah, berbahasa kromo inggil, dan melakukan segala etiket feodal lainnya. Kartini bahkan membiarkan Roekmini dan Kardinah memanggilnya “kamu”.
Ketika Kartini mengalami pingitan, menurut Tempo, dia merasa bersyukur karena masih tetap dibolehkan untuk meneruskan kegemarannya sedari kecil. Apa kegemarannya itu? Membaca. Selama dipingit, Kartini melahap habis buku-buku modern kiriman R.M. Panji Sosrokartono, kakak kandungnya yang “lebih beruntung” karena dapat melanjutkan sekolah di HBS Semarang hingga Universitas Leiden, Belanda. Kartini juga memanfaatkan kotak bacaan (leestrommel) langganan ayahnya, yang berisi buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri. Bacaan-bacaan bertema sosial, politik, hingga sastra itu membantu Kartini menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini.
baca6
Tanpa disadarinya, segala bacaan itu telah mendidiknya—yang selama ini seakan-akan dia merasa hanya menjadi perempuan muda Jawa yang terbuang dari pendidikan—untuk berjuang mendobrak tradisi yang menindas kaumnya. “Kecerdasan Kartini kian terasah ketika berkorespondensi dengan banyak orang Belanda,” tambah Tempo. Kemampuannya mengungkapkan pikirannya secara tertulis semakin membuat Kartini melejit. Pikiran Kartini yang telah berhasil memasukkan alam pikiran Eropa—lewat pelbagai bacaannya yang kaya itu—kemudian berhasil diakeluarkan lewat menulis setelah hal-hal yang masuk ke dalam pikirannya dikaitkan dengan keadaan diri dan masyarakatnya. Sebuah proses pendidikan (atau belajar) mandiri yang luar biasa.
Apakah Kartini menjadi amazing seperti itu dikarenakan kehidupannya yang mapan (hidup di lingkungan bangsawan Jawa dan dikitari oleh bahan bacaan yang kaya serta pergaulannya dengan bangsa asing) atau malah dikarenakan ketertindasannya?[]
baca5



Sumber : http://jofania.wordpress.com/2013/05/22/2619/




Tidak ada komentar:

Posting Komentar