Kamis, 13 Juni 2013

Amazing Kartini

Amazing Kartini!
Oleh Hernowo


kartini1

“Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku.”
—Kartini (surat bertanggal 25 Mei 1899)
Saya sudah membaca beberapa buku tentang Kartini. Pahlawan nasional yang belum lama diperingati hari kelahirannya ini dijadikan tema majalah Tempo edisi 22-28 April 2013. Sungguh, ketika membaca (mencermati dengan saksama) edisi majalah Tempo tentang Kartini, saya merasakan ada yang baru dan berbeda serta—mohon maaf…lebay—menakjubkan. Dengan gesit dan cerdas, Tempo menunjukkan sisi-sisi kontroversial Kartini namun hal itu malah membuat sosok Kartini tampil lebih “hidup” dan digdaya. Pikiran-pikiran Kartini, khususnya, masih mampu menembus sekat-sekat era cyberspace dan relevan dengan zaman yang sudah sangat berbeda dengan zaman ketika Kartini hidup.
Mungkin saja Kartini menjadi demikian karena dia meninggalkan warisan berwujud tulisan. Meskipun tulisan Kartini hanya berupa surat-surat yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Belanda, surat-surat tersebut ternyata berhasil (dengan baik dan tertata) merekam pemberontakan, penderitaan, dan keinginan Kartini agar kaumnya maju, mandiri, serta terbebas dari “kerangkeng” buatan manusia. Ada dua hal menarik tentang ini. Hal menarik pertama berasal dari Saparinah Sadli yang, bersama Haryati Soebadio, menulis buku Kartini Pribadi Mandiri. Menurut Tempo, berpijak pada pendapat Saparinah Sadli, “…Kartini istimewa karena kritis dan mengangkat isu sosial. Ini yang membedakannya dengan pahlawan lain.” Lebih tegas lagi ditunjukkan bahwa Kartini berbeda karena “ia meninggalkan tulisan.”
Hal menarik kedua datang dari seorang peneliti Kartini bernama Didi Kwartanada. Didi adalah sejarawan dari Yayasan Nabil, Jakarta. Didi mengaku jatuh cinta kepada Kartini sejak 2008. Di yayasan yang berupaya meneguhkan pluralisme dan multikulturalisme itu, Didi menelaah berbagai literatur yang membahas Kartini. “Kartini adalah prototipe manusia Indonesia baru,” kata Didi. Entah apa yang dimaksud dengan “manusia Indonesia baru”. Mungkin saja, menurut saya, Kartini memang memiliki visi. Pandangannya sangat jauh ke depan dan saya kaget karena itu dimiliki oleh seorang perempuan yang masih muda, mengalami masa “pengerangkengan” (pingitan) pada usia sekitar 12 tahun lebih, dan hidup di tengah cengkeraman alam feodal.
kartini4
“Kartini peka menyongsong masa depan, (sementara) yang lain masih terkukung dan tersandera keadaan,” tambah Aristides Katoppo, editor buku Satu Abad Kartini, sebagaimana dikutip Tempo dalam laporannya yang berjudul, “Dia Minta Dipanggil Kartini Saja”. Ketika saya menemukan kata-kataAristides Katoppo tersebut, saya pun spontan berteriak keras, “Amazing!”, seraya membayangkan sosok sutradara Amazing Spiderman, Marc Webb. Webb berhasil menunjukkan kedigdayaan Peter Parker (Andrew Garfield) bukan bertumpu pada “otot kawat, balung wesi” yang dimiliki Spiderman tetapi malah pada kelembutannya dalam memadu kasih dengan Gwen Stacy (Emma Stone). Adegan percintaan Andrew dan Emma dalam film tersebut, ditangan  Webb, menurut saya amazing!
Demikianlah juga Kartini. Perempuan yang mati muda ini menunjukkan kedigdayaannya bukan pada sosoknya tetapi pikirannya. Di balik sosok yang mungkin rapuh, lemah, dan terpinggirkan ternyata ada semacam kekuatan yang dahsyat. Kekuatan dahsyat itu ditunjukkan oleh Kartini lewat surat-suratnya. Surat-surat itu, yang ditulis dalam bahasa Belanda, saya duga masih akan terus mengguncang (siapa saja yang membacanya) dan bertahan lama….[]
 kartini3


 Sumber : http://jofania.wordpress.com/2013/05/22/2619/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar