Kamis, 13 Juni 2013

Kartini Pribadi yang (Ingin) Merdeka?: Amazing Kartini! (2)

Kartini Pribadi yang (Ingin) Merdeka?: Amazing Kartini! (2)
Oleh Hernowo
“Ya, Tuhan, terima kasih! Tuhan, terima kasih! Aku bisakeluar dari penjara sebagai seorang yang bebas.”
—Kartini

Kartini, secara fisik, mungkin tak bisa bebas. Dia, karena perempuan, dibatasi oleh semacam “tatakrama” pada masa dia hidup. Salah satunya, sebagaimana kita sama-sama mengetahuinya, dia harus mengalami “pingitan” (dikurung di dalam rumah ketika usianya menjelang remaja tanpa boleh berhubungan dengan dunia luar sampai ada seorang pria yang melamarnya). Namun, secara nonfisik, Kartini adalah manusia merdeka. Dia dapat mengembarakan pikirannya ke mana saja sesuai keinginannya. Adakah yang dapat membatasi atau mengerangkeng pikiran?
Kemerdekaan Kartini ditunjukkannya lewat kata-kata yang saya kutip untuk mengawali tulisan ini. Kata-kata itu tercantum di dalam surat pertama Kartini yang dikirimkan kepada gadis Belanda yang dia kenal lewat iklan di majalah De Hollandsche Lelie. Setelah empat tahun terkurung sendirian di balik tembok tebal sebagai gadis pingitan, kata-kata tersebut dapat menunjukkan pribadi Kartini yang tak mau diam dan hanya pasrah dengan keadaan. “Otak Kartini terus mempertanyakan mengapa begitu rendah kedudukan wanita di tanah kelahirannya. Begitu pula soal beraneka tradisi feodal lainnya,” tulis Tempo.
Kartini, tampaknya, memang pribadi yang memiliki jiwa gelisah dan rasa ingin tahu yang besar. Salah satu yang dapat menunjukkan pribadi-gelisah dan rasa ingin tahu Kartini adalah keinginannya untuk mendapatkan sahabat pena lewat iklan. Lewat iklan? Ya. Dikabarkan bahwa Kartini mengirim surat kepada Johanna van Woude (nama pena Sophie Margaretha Cornelia van Eermeskerken), pengasuh majalah DeHollandsche Leliedan salah satu perempuan pertama yang jadi anggota Masyarakat Sastra Belanda. Surat itu berisi permintaan Kartini agar dia dicarikan sahabat pena lewat iklan.
Iklan kecil itu akhirnya terbit di majalah De Hollandsche Lelie edisi 15 Maret 1899. “Raden Ajeng Kartini, putri Bupati Jepara, umur sekian dan seterusnya, ingin berkenalan dengan seorang ‘teman pena wanita’ untuk saling surat-menyurat. Yang dicari ialah seorang gadis dari Belanda yang umurnya sebaya dengan dia dan mempunyai banyak perhatian terhadap zaman modern serta perubahan-perubahan demokrasi yang sedang berkembang di seluruh Eropa,” demikian bunyi iklan itu seperti dikutip Siti-Soemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi.
Sekali lagi, ada seorang gadis berusia 20 tahun, sekitar 130 tahun lalu, berinisiatif mencari sahabat pena dengan beriklan? Dan sahabat pena yang dicari si gadis adalah sahabat pena yang mau bertukar pikiran tentang perubahan? Apa gerangan yang mendorong Kartini untuk bertukar pikiran secara tertulis? Akhirnya yang dicari Kartini pun muncul. Kartini memanggilnya Stella. Nama lengkapnya Estelle Zeehandelaar, aktivis feminis yang lima tahun lebih tua daripada Kartini. Stella menjawab iklan Kartini dan dimulailah kemudian korespondensi antara keduanya. Krespondensi antara dua gadis berpikiran majudari dua bangsa berbeda yang belum pernah bertemu seumur hidup?
Surat pertama Kartini kepada Stella bertitimangsa 25 Mei1899. “Surat-surat Kartini bernada intim dan menunjukkan dialog yang intens tentang berbagai topik, seperti buku yang dibacanya dan tulisannya di berbagai media. Dia juga membahas tradisi perjodohan, poligami, opium, agama, bahasa Belanda sebagai pembuka pintu pengetahuan, nasib perempuan Jawa yang tertindas, kebijakan politik kolonial yang merugikan pribumi, keinginannya mendirikan sekolah, dan rencananya bersekolah di negeri kelahiran pelukis Rembrandt itu,” papar Tempo.
Apakah dorongan menulis yang ada di dalam diri Kartini memang dikarenakan keinginannya untuk bebas atau ada hal lain? Dikabarkan pula bahwa selain tulisan berupa surat-menyurat itu, Kartini juga menulis sebuah artikel ilmiah. Artikel tersebut berjudul “Het Huwelijk bij de Kodja’s” yang menceritakan upacara perkawinan suku Koja di Jepara. Artikel ini dimuat dalam Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkundevan Ned-Indie pada 1898. Menurut Didi, artikel ini merupakan karya tulis yang luar biasa. Didi bahkan menyebutnya sebagai karya ilmiah. Dan “Kartini menjadi sangat terkenal karena kefasihannya dan kemahirannya menulis dalam bahasa Belanda,” tulis Tempo.
“Tulisan Kartini yang tajam dan jernih mengguncang Amsterdam ketika diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dalam buku Door Duisternis Tot Licht (HabisGelap Terbitlah Terang) oleh Jacques Henrij Abendanon, direktur di Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda dan tokoh EthischeKoers (Politik Etis). Buku itu laris dan dicetak berkali-kali. Koran-koran di Hindia Belanda dan Negara Belanda banyak memuat iklan yang menawarkankan buku itu seharga 4,75 gulden,” tambah Tempo.
Sekali lagi, kenapa Kartini suka dan mampu menulis?[]




Sumber : http://jofania.wordpress.com/2013/05/22/2619/






Tidak ada komentar:

Posting Komentar